ASIAWORLDVIEW – Kesadaran masyarakat umum terhadap isu keberlanjutan atau sustainability memang terus tumbuh. Semakin banyak orang memahami bahwa menjaga lingkungan bukan lagi tanggung jawab segelintir aktivis, melainkan bagian dari gaya hidup sehari-hari. Namun, satu hal yang sering terlupakan adalah bahwa kesadaran saja tidak cukup. Kegiatan ini perlu dikemas dengan cara yang menarik, relevan, dan mudah dicerna, terutama bagi mereka yang belum terbiasa dengan istilah-istilah besar seperti jejak karbon, ekonomi sirkular, atau zero waste.
Nutrifood melalui Nutrifood Leadership Award (NLA) 2026, juga menekankan program sustainability dalam menjaga lingkungan. Pendekatan yang berhasil justru sering kali dimulai dari hal-hal kecil di sekitar kita: dari dapur, dari halaman rumah, dari kebiasaan belanja, hingga dari rasa ingin tahu anak-anak. Di sinilah narasi tentang sustainability berubah dari wacana menjadi pengalaman hidup yang nyata.
Morra Lovreza, Community and Operations Manager SOS Jakarta menjelaskan, salah satu contoh menarik datang dari sebuah inisiatif yang mengajak masyarakat untuk melihat limbah rumah tangga dengan cara berbeda. Alih-alih membeli cairan kimia pembasmi serangga, mereka diperkenalkan pada solusi sederhana yang berasal dari bahan dapur.
“Bawang, misalnya, bisa diolah menjadi larutan pengusir serangga. Tidak perlu lagi mengeluarkan uang untuk produk kimia yang mahal dan berpotensi mencemari lingkungan. Dari hasil percobaan sederhana itu, muncul kesadaran bahwa banyak masalah rumah tangga sebenarnya bisa diselesaikan dengan bahan-bahan yang sudah ada di sekitar kita,” ia mengatakan dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (15/10/2026).
Baca Juga: Nutrifood Leadership Award 2026 Ciptakan Dampak Lewat Proyek Sosial
Inisiatif ini semakin menarik adalah keterlibatannya dengan anak-anak, terutama mereka yang masih kecil hingga usia sekolah dasar. Anak-anak diajak untuk datang membawa flash card, kompos, sampah organik, dan bibit tanaman.
“Mereka juga diberikan buku panduan yang dirancang sesuai usia, agar dapat memahami proses menanam, merawat, dan memanen. Mulai dari usia dini, mereka diperkenalkan pada siklus kehidupan: dari sisa makanan menjadi kompos, dari kompos menjadi media tanam, dari bibit menjadi tanaman yang bisa mereka konsumsi sendiri. Mereka tidak hanya belajar teori, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik,” ia menambahkan.
Mereka mengukur pertumbuhan tanaman, mencatat perkembangannya, dan bahkan diminta menjadi kontributor untuk melaporkan hasil pertumbuhan dari tanaman mereka. Proses ini mengubah anak-anak dari penerima informasi menjadi partisipan aktif dalam gerakan lingkungan.
Yang mengejutkan, anak-anak ternyata sangat tertarik dan menyukai kegiatan ini. Mereka antusias ketika diminta menjadi kontributor, melaporkan perkembangan tanaman mereka, dan berbagi cerita tentang apa yang mereka tanam. Dalam banyak kasus, keterlibatan emosional seperti ini jauh lebih efektif daripada ceramah atau kampanye yang bersifat satu arah. Anak-anak merasa memiliki proyeknya sendiri, merasa bangga ketika tanaman mereka tumbuh, dan secara alami mengembangkan rasa tanggung jawab terhadap lingkungan. Dari sini, kesadaran sustainability tidak lagi terasa seperti kewajiban, melainkan seperti petualangan yang menyenangkan. Mereka belajar bahwa menjaga lingkungan bisa dimulai dari hal kecil, dari halaman rumah, dari pot di jendela, dari sisa sayur di dapur.
Selama ini, sering muncul anggapan bahwa masyarakat tidak peduli atau tidak mampu berpartisipasi dalam gerakan keberlanjutan. Namun, ketika pendekatannya tepat—menarik, praktis, melibatkan anak-anak, dan memberikan hasil yang bisa dilihat langsung—partisipasi justru datang dengan sendirinya. Masyarakat tidak hanya mau, tetapi juga mampu. Mereka bersedia mengubah kebiasaan, mengelola sampah organik, menanam tanaman, dan bahkan mendokumentasikan prosesnya.
“Hal yang dibutuhkan bukanlah paksaan atau regulasi yang rumit, melainkan cara-cara kreatif yang membuat isu lingkungan terasa dekat, personal, dan menyenangkan,” pungkasnya.
