ASIAWORLDVIEW – Bali, Banten, dan Yogyakarta tercatat sebagai tiga lokasi dengan tingkat okupansi hotel tertinggi di Indonesia. Hal ini mencerminkan daya tarik wisata yang kuat di masing-masing daerah. Selain itu, menunjukkan peran penting sektor pariwisata dalam menopang perekonomian lokal.
Bali dengan pesona pantai dan budaya internasionalnya tetap menjadi magnet utama wisatawan mancanegara maupun domestik. Banten, khususnya kawasan Anyer dan sekitarnya, menawarkan destinasi pantai yang dekat dengan Jakarta sehingga menjadi pilihan populer untuk liburan singkat. Sementara itu, Yogyakarta menonjol dengan kekayaan budaya, sejarah, serta daya tarik kuliner yang membuatnya selalu ramai dikunjungi wisatawan.
Tingginya okupansi hotel di ketiga daerah ini menegaskan bahwa sektor akomodasi di pusat-pusat wisata utama Indonesia terus berkembang, sekaligus menjadi indikator positif bagi pertumbuhan industri pariwisata nasional. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa Bali, Banten, dan Yogyakarta mencatat tingkat okupansi tertinggi untuk hotel berbintang pada Juli 2026.
“Tingkat hunian yang lebih tinggi didorong oleh meningkatnya mobilitas wisatawan domestik dan permintaan akomodasi selama liburan sekolah,” kata Wakil Kepala BPS Bidang Statistik Distribusi dan Jasa, Ateng Hartono.
Bali mencatat tingkat okupansi tertinggi sebesar 67,29 persen, disusul Banten sebesar 58,89 persen dan Yogyakarta sebesar 58,51 persen. Tingkat hunian nasional untuk hotel berbintang mencapai 54,55 persen pada bulan Juli, naik 0,26 poin persentase dari bulan Juni dan 1,75 poin persentase dari tahun sebelumnya.
“Faktor lain yang mendukung tingkat hunian hotel antara lain acara-acara lokal dan internasional yang diselenggarakan di Sulawesi Utara, Jawa Barat, Jakarta, Bali, dan Jawa Tengah,” ia menambahkan.
Baca Juga: Status Darurat Karhutla Gunung Bromo, Ancaman Ekologi dan Wisata
Tingkat hunian terendah tercatat di Papua Pegunungan sebesar 18,33 persen, Maluku sebesar 27,18 persen, dan Aceh sebesar 29,04 persen. Secara bulanan, tingkat hunian hotel berbintang naik 0,26 poin persentase pada Juli. Nusa Tenggara Barat mencatat kenaikan terbesar sebesar 6,68 poin persentase, diikuti oleh Papua sebesar 5,94 dan Nusa Tenggara Timur sebesar 3,83.
Gorontalo mencatat penurunan paling tajam, dengan tingkat hunian turun 5,82 poin persentase. Tingkat hunian di hotel non-bintang dan akomodasi lainnya mencapai 27,25 persen pada Juli 2026.
“Empat belas provinsi mencatat tingkat hunian hotel berbintang yang lebih tinggi pada Juli 2026 dibandingkan Juni,” kata Ateng.
Bali mencatat tingkat hunian tertinggi dalam kategori ini sebesar 42,53 persen, diikuti oleh Jakarta sebesar 42,21 persen dan Kepulauan Riau sebesar 39,79 persen. Papua Highland mencatat tingkat hunian terendah sebesar 7,78 persen. Tingkat hunian di hotel tanpa bintang dan akomodasi lainnya turun 0,34 poin persentase pada Juli dibandingkan Juni, katanya.
“Tingkat hunian di hotel berbintang umumnya lebih tinggi daripada di hotel tanpa bintang,” kata Ateng.
Nusa Tenggara Barat mencatat kenaikan terbesar sebesar 3,90 poin persentase, diikuti oleh Bali sebesar 3,61 dan Kepulauan Riau sebesar 1,84. Gorontalo mencatat penurunan tertajam sebesar 4,76 poin persentase, diikuti oleh Maluku sebesar 3,34 dan Banten sebesar 2,81.
