ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin (BTC) menunjukkan momentum pemulihan pada Kamis (22/10/2026), yang cukup meyakinkan setelah sempat terpuruk di awal pekan. Kini, menembus level USD84.000 dan mendekati resistance kunci.
Berdasarkan data live Tokocrypto, BTC diperdagangkan di sekitar USD84.654,74, menguat sekitar 2,45 persen dalam 24 jam terakhir, dengan volume perdagangan mencapai sekitar USD28,02 miliar.
Pergerakan intraday hari ini memperlihatkan pola pemulihan yang bertahap namun penuh gejolak. Bitcoin sempat terpuruk di sekitar USD81.500 pada awal sesi, kemudian berhasil menembus level USD82.800 dan melesat ke titik tertinggi harian di sekitar USD84.800 sebelum akhirnya berkonsolidasi di kisaran USD84.200 hingga USD84.500.
Baca Juga: Industri Kripto Usulkan Tarif PPh Transaksi Turun Jadi 0,1%
Namun, menjelang siang waktu Asia, harga kembali melemah di bawah USD83.000, turun lebih dari 2 persen dari puncak pagi, dan diperdagangkan di sekitar USD82.930 . Data lain bahkan mencatat BTC menyentuh USD83.000 dengan kenaikan 24 jam yang tipis hanya 0,15 persen, menunjukkan bahwa volatilitas masih tinggi dan tekanan jual belum sepenuhnya hilang.
Dari sisi sentimen makro, ada beberapa faktor yang saling bertentangan dan menciptakan lingkungan yang kompleks bagi Bitcoin. Faktor pendorong utama datang dari penguatan saham teknologi Amerika Serikat yang membangkitkan selera risiko investor global. Laporan keuangan yang kuat dari perusahaan-perusahaan besar seperti SpaceX dan Super Micro Computer telah menghidupkan kembali optimisme terhadap investasi AI, dan efeknya merambat ke aset kripto. Selain itu, Otoritas Pengawasan Pasar Keuangan Swiss (FINMA) telah menyetujui ETF Bitcoin spot pertama negara itu yang ditujukan untuk investor ritel—sebuah sinyal adopsi institusional yang semakin luas di Eropa.
Dari sisi regulasi AS, Office of the Comptroller of the Currency (OCC) mengumumkan aturan final GENIUS Act, yang memberikan kejelasan lebih lanjut bagi industri stablecoin dan dipandang positif oleh pasar. Namun, di sisi lain, imbal hasil obligasi Treasury AS tenor 10 tahun masih bertahan di level tinggi, dan harga minyak Brent yang berada di sekitar US$108 per barel terus menjadi beban bagi prospek inflasi dan biaya pendanaan. Ketidakpastian seputar arah suku bunga Federal Reserve juga belum sepenuhnya mereda: pasar memperkirakan peluang penahanan suku bunga pada pertemuan FOMC 27-28 Oktober sekitar 70 persen, tetapi masih ada ekspektasi kenaikan pada Desember mendatang.
Bitcoin saat ini berada di persimpangan yang menentukan antara kelanjutan rebound dan risiko pembalikan arah. Kenaikan harga didorong oleh kombinasi faktor teknikal (short squeeze dan rebound dari support), sentimen eksternal (saham teknologi dan regulasi kripto yang positif), serta melemahnya tekanan dari imbal hasil obligasi dan harga minyak.


One thought on “Bitcoin Sempat Sentuh USD84.898, lalu Terkoreksi di Tengah Gejolak Pasar”