ASIAWORLDVIEW – Bursa Efek Indonesia (BEI) memastikan komunikasi dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) Inc. akan terus berlanjut menyusul pengumuman hasil tinjauan indeks MSCI periode Agustus 2026. Hal tersebut sebagai bagian dari upaya menjaga kepercayaan investor terhadap pasar modal Indonesia di tengah berbagai perubahan komposisi saham yang diumumkan oleh penyedia indeks global tersebut.
“Komunikasi kami dengan MSCI tentu akan terus dilanjutkan. Demikian juga komunikasi dengan investor global,” ujar Direktur Utama BEI Jeffrey Hendrik di Jakarta.
Ia menjelaskan bahwa tinjauan indeks yang dilakukan MSCI merupakan bagian dari evaluasi rutin terhadap saham-saham global, termasuk konstituen dari pasar Indonesia. Dalam proses rebalancing tersebut, MSCI menggunakan keterbukaan informasi publik yang telah disampaikan BEI, seperti data High Shareholders Concentration (HSC) serta kepemilikan saham di atas 1 persen.
Hasil tinjauan MSCI Agustus 2026 yang diumumkan di London pada Rabu (12/8) mencatat sejumlah perubahan signifikan pada komposisi saham Indonesia. Dalam MSCI Global Standard Index, dua saham Indonesia dikeluarkan: PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) dan PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk (CPIN).
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
CPIN sendiri diturunkan ke MSCI Global Small Cap Index, sementara GOTO dihapus karena masalah likuiditas, terutama setelah sahamnya bertahan di harga minimum Rp50 sejak Mei 2026. Pada kategori Small Cap, MSCI hanya memasukkan satu saham Indonesia dan menghapus sembilan saham lainnya.
Sembilan saham yang dikeluarkan dari MSCI Global Small Cap Indexes meliputi PT Bank Jago Tbk (ARTO), PT Bukalapak.com Tbk (BUKA), PT ESSA Industries Indonesia Tbk (ESSA), PT MD Entertainment Tbk (FILM), PT Medikaloka Hermina Tbk (HEAL), PT MNC Tourism Indonesia Tbk (KPIG), PT Raharja Energi Cepu Tbk (RATU), PT Semen Indonesia (Persero) Tbk (SMGR), serta PT Transcoal Pacific Tbk (TCPI). Dengan masuknya CPIN dan keluarnya sembilan saham tersebut, perubahan bersih pada segmen Small Cap Indonesia tercatat minus delapan konstituen. Seluruh perubahan dari tinjauan Agustus akan diterapkan pada penutupan perdagangan 31 Agustus 2026 dan efektif mulai 1 September 2026.
Hasil tinjauan ini juga memicu kekhawatiran akan potensi arus dana keluar (outflow) dari pasar saham Indonesia. PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia memperkirakan potensi passive outflow hingga Rp1 triliun, terutama karena tidak ada saham Indonesia baru yang ditambahkan ke Global Standard Index sehingga tidak ada arus dana masuk yang mengimbangi.
BEI menegaskan komitmennya untuk terus berkoordinasi dengan pelaku pasar global seiring dengan inisiatif transformasi reformasi pasar modal yang tengah dilakukan oleh pemerintah Indonesia bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self Regulatory Organization (SRO).
Langkah ini ditempuh untuk menjaga sekaligus meningkatkan kepercayaan terhadap pasar modal Indonesia, terutama di tengah perhatian investor global terhadap perkembangan pasar domestik. MSCI sendiri dijadwalkan mengumumkan tinjauan indeks berikutnya pada 11 November 2026, dengan perubahan efektif mulai 1 Desember 2026.
