ASIAWORLDVIEW – Indonesia telah menunjukkan pertahanan yang kuat di tengah ketidakpastian ekonomi global. Stabilitas sistem keuangan nasional tetap terjaga, dengan langkah-langkah antisipatif seperti koordinasi kebijakan fiskal dan moneter, serta deregulasi lintas kementerian.
Hal itu diungkapkan Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati. Menurutnya, Indonesia mampu mengantisipasi tekanan ekonomi global, termasuk dampak dari perang dagang dan kebijakan tarif Amerika Serikat.
“Indonesia diproyeksikan untuk mengelola dampak buruk dari ketidakpastian global sambil menjaga stabilitas sistem keuangan dan mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi,” kata Sri Mulyani Kamis (24/4/2025), di Jakarta.
Baca Juga: Sri Mulyani: APBN untuk Pengembangan Objek Wisata dan Jalan Tol di Seluruh Indonesia
Sri Mulyani mengutip kebijakan tarif timbal balik dari AS sebagai katalis terbaru dari tantangan pasar, yang mengakibatkan pergeseran oleh investor ke aset aman-haven seperti obligasi emas dan pemerintah di pasar maju. Pasar negara berkembang, termasuk Indonesia, telah melihat beberapa tekanan mata uang karena arus keluar modal.
Indonesia menghadapi tarif ekspor 32 persen pada barang yang dikirim ke AS dalam tiga bulan ke depan, di samping tarif garis dasar 10 persen yang sudah berlaku.
“Meskipun ada tekanan aliran modal, Indonesia telah mempertahankan stabilitas keuangan melalui respons kebijakan yang terkoordinasi. Ini menunjukkan sistem keuangan kami cukup kuat untuk menahan guncangan global,” katanya.
Untuk mengatasi risiko-risiko ini, pemerintah memperkuat fondasi ekonomi domestiknya melalui campuran koordinasi fiskal dan moneter, merampingkan proses birokrasi di seluruh kementerian, dan mengerahkan utusan perdagangan yang dipimpin oleh Kepala Urusan Ekonomi Airlangsang Hartarto untuk meringankan ketegangan perdagangan dengan AS.
Bank Indonesia juga memperkuat kebijakan moneter untuk menjaga stabilitas nilai tukar Rupiah dan inflasi dalam sasaran yang terkendali. Posisi cadangan devisa Indonesia mencapai rekor tertinggi sebesar USD157,1 miliar, yang cukup untuk membiayai impor selama lebih dari enam bulan. Selain itu, surplus neraca perdagangan terus berlanjut, mendukung ketahanan eksternal ekonomi.
