Gelombang Panas Ekstrem di Eropa Tingkatkan Risiko Heatstroke hingga Kematian

Warga disarankan perbanyak minum air putih untuk menghindari dehidrasi.

ASIAWORLDVIEW – Gelombang panas ekstrem masih membayangi Eropa pada awal Juli 2026, dengan suhu mencapai lebih dari 40°C di beberapa wilayah dan menelan korban jiwa lebih dari 1.300 orang. Fenomena ini disebut sebagai salah satu yang terparah dalam sejarah, dipicu oleh perubahan iklim global dan pola cuaca berupa kubah panas yang menjebak udara panas.

Risiko panas tidak hanya berkaitan dengan suhu, kelembapan juga meningkatkan risiko penyakit akibat panas karena memengaruhi seberapa efektif keringat mendinginkan tubuh manusia saat cuaca panas. Alih-alih hanya memperhatikan suhu saat merencanakan aktivitas di luar ruangan, periksalah indeks panas, yang memperhitungkan risiko penyakit akibat panas yang terkait dengan suhu dan kelembapan relatif. Kondisi panas ini bisa memengaruhi kesehatan, mengutip dari Health, Rabu (1/7/2026).

Kondisi medis terkait cuaca ekstrem, heat exhaustion dan heat stroke. Meski tampak sama, keduanya berbeda dalam tingkat keparahan dan risiko yang ditimbulkan.

Heat exhaustion masih memungkinkan tubuh berkeringat, sedangkan heat stroke menandakan kegagalan total sistem tersebut.

Baca Juga: Semangka Si Penyelamat Musim Panas, Rendah Kalori dengan Segudang Manfaat Kesehatan

Heat exhaustion adalah tahap awal ketika tubuh mulai kehilangan kemampuan untuk mengatur suhu dengan baik. Pada fase ini, mekanisme pendinginan tubuh masih berfungsi, ditandai dengan keluarnya keringat berlebihan, rasa haus yang intens, pusing, mual, dan kelemahan fisik.

Kondisi ini adalah sinyal peringatan bahwa tubuh sedang berjuang keras melawan panas, sehingga tindakan cepat seperti berpindah ke tempat sejuk, melonggarkan pakaian, minum air dingin, dan beristirahat sangat penting untuk mencegah perburukan. Jika gejala tidak membaik, heat exhaustion dapat berkembang menjadi heat stroke, yaitu kondisi darurat yang mengancam jiwa.

Pada kondisi ini, sistem pengaturan suhu tubuh gagal total. Alhasil suhu tubuh bisa melonjak drastis hingga di atas 40°C. Gejalanya meliputi kebingungan, disorientasi, pusing berat, kehilangan kesadaran, bahkan berhentinya produksi keringat meski suhu tubuh sangat tinggi.

Sementara, heat stroke membutuhkan penanganan medis segera. jika tidak, dapat menyebabkan kerusakan organ permanen atau kematian. Pada tahap ini, sistem termoregulasi gagal sehingga suhu tubuh dapat melonjak drastis hingga di atas 40°C.

Gejala yang muncul biasanya lebih parah dibandingkan heat exhaustion, meliputi kebingungan, disorientasi, pusing berat, hingga kehilangan kesadaran. Salah satu tanda khas adalah berhentinya produksi keringat meskipun suhu tubuh sangat tinggi, yang menunjukkan bahwa mekanisme pendinginan alami tubuh sudah tidak berfungsi.

Kondisi ini dapat dengan cepat menyebabkan kerusakan organ vital seperti otak, jantung, ginjal, dan hati, sehingga risiko kematian sangat tinggi bila tidak segera ditangani. Penanganan darurat harus dilakukan secepat mungkin, termasuk memanggil layanan medis, memindahkan penderita ke tempat yang lebih sejuk, melonggarkan pakaian, serta mendinginkan tubuh dengan air atau kompres es.

Dalam situasi kritis, setiap menit sangat berharga karena keterlambatan intervensi dapat berujung pada komplikasi permanen atau fatal.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *