ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dibuka menguat di kisaran Rp17.840–17.868 per USD, naik sekitar 0,30–0,32% dibanding penutupan akhir pekan lalu di Rp17.922. Kurs tengah Bank Indonesia (JISDOR) tercatat di Rp17.962 per USD.
Sementara kurs jual beli di perbankan besar seperti BCA, Mandiri, BRI, dan BNI bergerak antara Rp17.755–18.051, menunjukkan adanya variasi harga sesuai kebutuhan transaksi. Rupiah tercatat di Rp17.868 per USD, menguat 54 poin atau 0,30%.
Penguatan rupiah ini didorong oleh beberapa faktor utama. Efisiensi anggaran pemerintah melalui pemangkasan belanja program prioritas nasional yang memperbaiki persepsi pasar terhadap kesehatan fiskal negara.
Selain itu, stabilitas makroekonomi domestik yang dijaga oleh kebijakan Bank Indonesia, memastikan kurs tetap bergerak sesuai mekanisme pasar. Ketiga, meski ada tekanan eksternal berupa eskalasi geopolitik di Timur Tengah dan penguatan dolar AS secara global, rupiah masih mampu mencatat penguatan tipis.
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis, Dibuka di Rp 18.134 per Dolar AS
Selain itu, penurunan harga minyak mentah menurunkan tekanan inflasi, memberi ruang bagi rupiah untuk stabil. Namun, risiko tetap membayangi.
Volatilitas tinggi membuat rupiah diperkirakan bergerak di kisaran Rp17.850–Rp18.000 sepanjang hari, dengan level psikologis Rp18.000 sebagai batas penting yang akan menentukan arah pergerakan selanjutnya.
Faktor eksternal seperti geopolitik global, ketegangan AS–Iran, serta perang dagang internasional berpotensi kembali menekan rupiah. Di sisi lain, pasar saham domestik juga terpengaruh: pelemahan rupiah sebelumnya sempat memicu koreksi IHSG hingga 4,55% dalam sepekan, menunjukkan keterkaitan erat antara kurs dan pasar modal.
Ancaman eksternal tetap besar, sehingga level Rp18.000 per USD menjadi area psikologis yang krusial untuk menjaga stabilitas rupiah dalam jangka pendek.

