ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS atau USD hari ini, Jumat (26/6/2026), melemah ke kisaran Rp17.977–17.995 per USD. Angkanya mendekati level psikologis Rp18.000 yang menjadi perhatian utama pelaku pasar.
Pelemahan ini mencerminkan penurunan harian sekitar 34–52 poin atau 0,19–0,29% dibanding penutupan sebelumnya di Rp17.943. Data kurs Bank Indonesia per 25 Juni 2026 menunjukkan posisi jual di Rp18.044,78 dan beli di Rp17.865,22, menandakan tren pelemahan yang konsisten sepanjang pekan.
Tekanan eksternal menjadi faktor dominan, terutama dari inflasi inti AS bulan Mei 2026 yang berada di level tertinggi sejak Oktober 2023, sehingga memicu ekspektasi kebijakan moneter hawkish dari Federal Reserve. Pernyataan pejabat The Fed yang menegaskan kemungkinan kenaikan suku bunga lebih lanjut menambah tekanan pada mata uang Asia, termasuk rupiah.
Indeks Dolar AS turun tipis ke level 101,43, tapi dolar tetap relatif kuat dibanding mata uang lain. Kondisi ini diperkuat oleh ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah dan fluktuasi harga minyak dunia yang memengaruhi sentimen global.
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis, Dibuka di Rp 18.134 per Dolar AS
Jika dibandingkan dengan mata uang Asia lainnya, rupiah melemah lebih besar daripada Yen Jepang hanya -0,01%. Bahkan, Dolar Singapura mengalami penurunan -0,04%, Won Korea hingga 0,35%. Bahkan Baht Thailand turun 0,26%.
Sementara beberapa mata uang seperti Peso Filipina naik 0,11%. Kemudian Rupee India melonjak 0,27%, dan Ringgit Malaysia 0,27%. Hal ini menunjukkan bahwa pelemahan rupiah sejalan dengan tren regional, namun tekanan yang dialami lebih berat dibanding sebagian tetangga.
Dampaknya terhadap ekonomi Indonesia cukup kompleks. Bagi importir dan konsumen, biaya impor meningkat sehingga berpotensi mendorong inflasi domestik. Sebaliknya, bagi eksportir, pelemahan rupiah memberi keuntungan kompetitif karena produk Indonesia menjadi lebih murah di pasar global.
Meski demikian, fundamental domestik masih cukup kuat dengan cadangan devisa sebesar USD144,9 miliar dan pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 mencapai 5,61%, yang menjadi penopang stabilitas jangka menengah.
Ke depan, risiko jangka pendek adalah kemungkinan rupiah menembus level Rp18.000 jika tekanan eksternal berlanjut. Prospek jangka menengah menunjukkan perbedaan kebijakan moneter antara AS dan Eropa dapat membuat dolar AS tetap kuat hingga paruh kedua 2026. Oleh karena itu, strategi pemerintah dalam diversifikasi pasokan energi dan penguatan cadangan devisa menjadi kunci menjaga stabilitas rupiah.
Kondisi ini menegaskan bahwa nilai tukar rupiah saat ini berada dalam persimpangan penting, di mana faktor global dan domestik saling tarik menarik, dan arah pergerakan selanjutnya akan sangat bergantung pada kebijakan moneter internasional serta respons fiskal dan moneter Indonesia.

