Investasi Asing di SRBI Capai USD13,3 Miliar, Perkuat Posisi Rupiah

Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo

ASIAWORLDVIEW – Investasi asing pada Surat Berharga Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mengalami peningkatan yang telah mencapai sekitar USD13,3 miliar. Kondisi itu memberikan kontribusi signifikan terhadap stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan eksternal global.

Instrumen SRBI yang diterbitkan oleh Bank Indonesia ini menjadi salah satu alternatif investasi yang menarik bagi investor asing karena menawarkan imbal hasil kompetitif sekaligus berdenominasi rupiah, sehingga secara langsung meningkatkan permintaan terhadap mata uang domestik.

“Dengan masuknya dana asing ke SRBI, likuiditas rupiah di pasar keuangan semakin terjaga, sehingga membantu menahan pelemahan kurs akibat penguatan dolar AS dan ketidakpastian geopolitik,” sebut Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo.

Ia mengaitkan dua tren positif tersebut dengan kebijakan stabilisasi responsif Bank Indonesia yang dirancang untuk melindungi mata uang dari ketidakpastian global yang semakin mengkhawatirkan. Selain itu, meningkatnya permintaan valuta asing dari korporasi di dalam negeri.

Baca Juga: Maybank Indonesia: Diversifikasi Aset Jadi Kunci Wealth Management di Era Ekonomi Saat Ini

“Per 15 Juni 2026, nilai SRBI yang beredar mencapai Rp1.021,1 triliun, dengan kepemilikan non-residen meningkat menjadi Rp238,1 triliun, atau 23,3 persen dari total, yang mendukung stabilisasi nilai tukar rupiah,” sebutnya dalam sebuah pertemuan di Jakarta.

Ia menyoroti bahwa kebijakan tersebut mencakup upaya menarik investasi portofolio asing guna memperkuat rupiah dengan menaikkan suku bunga SRBI untuk tenor enam, sembilan, dan dua belas bulan. Berdasarkan hasil lelang SRBI pada 17 Juni, rata-rata tertimbang suku bunga yang diterima mencapai 7,12 persen untuk tenor enam bulan, 7,33 persen untuk tenor sembilan bulan, dan 7,59 persen untuk tenor 12 bulan.

Keberhasilan Bank Indonesia menarik minat investor asing melalui SRBI menunjukkan kepercayaan internasional terhadap kebijakan moneter dan stabilitas makroekonomi Indonesia. Hal ini juga memperkuat cadangan devisa karena dana asing yang masuk melalui instrumen berdenominasi rupiah dapat digunakan untuk menopang kebutuhan likuiditas dan menjaga kestabilan sistem keuangan. Dampaknya, rupiah memiliki fondasi yang lebih kuat untuk menghadapi volatilitas pasar global, terutama di tengah kebijakan The Fed yang cenderung hawkish dan potensi arus keluar modal dari emerging market.

“Bank Indonesia juga telah mengintensifkan intervensi melalui transaksi valuta asing di pasar non-deliverable forward (NDF) luar negeri dan domestik, serta di pasar spot,” ia menjelaskan.

Selain itu, ia mencatat bahwa timnya telah memutuskan untuk memberikan insentif sebesar 10 persen untuk swap lindung nilai kepada investor asing guna mempertahankan kepercayaan mereka dan mengkompensasi kewajiban yang selama ini mereka tanggung.

“Bank Indonesia yakin bahwa nilai tukar rupiah akan stabil dan bahkan menguat, didukung oleh komitmen kami, imbal hasil yang menarik, serta prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang positif,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *