Harga Bitcoin Konsolidasi di USD 64.500, Sentimen Investor Masih Negatif

Bitcoin

ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin hari ini, Kamis (18/6/2026), bergerak di kisaran USD 64.389–64.654 (sekitar Rp 1,15 miliar per BTC). Angkanya mencatat penurunan harian sekitar 2% meskipun secara mingguan masih naik lebih dari 5%.

Kapitalisasi pasar kripto terbesar ini mencapai USD 1,31 triliun, menegaskan dominasinya di pasar aset digital. Tekanan harga terutama dipicu oleh kebijakan suku bunga The Fed yang tetap tinggi di kisaran 3,50–3,75% dengan nada hawkish, sehingga investor cenderung mengurangi eksposur pada aset berisiko.

Selain itu, faktor geopolitik global, khususnya ketegangan di Timur Tengah, serta aksi jual besar oleh investor institusional (whales) turut memperburuk sentimen. Dari sisi teknikal, Bitcoin berada dalam zona konsolidasi di sekitar USD 64.500 setelah sempat menembus USD 60.000, dengan level support penting di bawah USD 65.000 yang jika ditembus dapat memicu koreksi lebih dalam.

Korelasi kuat dengan S&P 500 (62%) dan emas (64%) menunjukkan betapa besar pengaruh faktor makroekonomi terhadap pergerakan harga. Sentimen investor saat ini masih didominasi aksi jual (63% sell vs 37% buy.

Baca Juga: Bitcoin Bertahan di Atas USD63.000, Data Tenaga Kerja Tekan Sentimen Kripto

Kondisi ini menandakan sikap hati-hati. Dengan volatilitas tinggi dan likuiditas yang relatif kuat, strategi manajemen risiko seperti penggunaan stop-loss menjadi penting agar investor dapat mengantisipasi potensi pergerakan mendadak.

Ppasar sedang mencari keseimbangan baru sebelum menentukan arah berikutnya. Dari sisi teknikal, level support dan resistance menjadi krusial: jika harga mampu bertahan di atas USD 65.000 dengan dukungan volume perdagangan yang kuat, maka peluang tren naik masih terbuka.

Namun, jika harga kembali menembus support kunci di bawah level tersebut, koreksi lebih dalam bisa terjadi. Sentimen investor saat ini masih cenderung negatif dengan dominasi aksi jual sebesar 63% dibandingkan aksi beli 37%, menandakan sikap hati-hati dan kecenderungan untuk mengurangi risiko.

Risiko utama tetap pada volatilitas tinggi yang dipengaruhi faktor makroekonomi dan geopolitik, serta potensi aksi jual besar yang dapat memicu penurunan mendadak meski likuiditas pasar relatif kuat. Oleh karena itu, strategi investasi yang bijak adalah menerapkan manajemen risiko seperti penggunaan stop-loss dan penyesuaian ukuran posisi sesuai toleransi risiko masing-masing investor.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *