Menteri Widiyanti Bangga Pariwisata Indonesia Tumbuh di Tengah Konflik Geopolitik

Menteri Pariwisata Widiyanti Putri Wardhana

ASIAWORLDVIEW – Sektor pariwisata nasional saat ini menunjukkan pertumbuhan yang kuat dan resiliensi yang mengesankan, meskipun dunia tengah dilanda ketidakpastian geopolitik. Data terbaru mencatat bahwa jumlah kunjungan wisatawan mancanegara terus meningkat dengan pertumbuhan signifikan, bahkan ketika beberapa kawasan seperti Timur Tengah mengalami penurunan akibat terganggunya konektivitas penerbangan. Peningkatan kunjungan dari kawasan Asia Tenggara, Asia lainnya, dan Oseania berhasil mengompensasi kerugian tersebut, sehingga devisa pariwisata tetap naik dan memberikan kontribusi besar terhadap PDB nasional.

“Secara kuantitatif, data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan bahwa pada periode Januari hingga April 2026, jumlah kunjungan wisatawan mancanegara (wisman) ke Indonesia mencapai 4,68 juta kunjungan, angka yang mencatatkan pertumbuhan sebesar 8,24 persen jika dibandingkan dengan periode yang sama di tahun 2025,” sebut Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Widiyanti Putri Wardhana, Rabu (3/6/2026).

Bahkan, pada periode Maret-April 2026, tambahnya, yang merupakan puncak ketegangan geopolitik, tingkat pertumbuhannya tercatat lebih tinggi lagi, mencapai 8,72 persen. Secara lebih rinci, BPS mencatat lonjakan signifikan pada bulan April 2026 saja, di mana jumlah wisman mencapai 1,25 juta orang, atau naik 14,75 persen secara bulanan dan 7,22 persen secara tahunan.

Baca Juga: Pariwisata Nasional Terimbas Konflik Global, Fokus ke Pasar Asia

Pencapaian ini semakin istimewa karena terjadi di tengah penurunan drastis jumlah wisatawan dari kawasan Timur Tengah yang terdampak langsung oleh konflik, yaitu turun sebesar 20,65 persen pada periode yang sama. Menpar menjelaskan bahwa penurunan ini tidak terlepas dari terganggunya konektivitas penerbangan internasional yang melintasi kawasan Timur Tengah, yang bahkan menyebabkan pembatalan hingga 1.444 penerbangan dan sekitar 160.052 potensi perjalanan wisata yang tidak terealisasi hingga akhir Mei 2026. Namun, kerugian dari kawasan ini berhasil dikompensasi dan bahkan dilampaui oleh peningkatan signifikan dari kawasan lain.

Data BPS menunjukkan bahwa pada Maret-April 2026, wisatawan dari Asia Tenggara tumbuh 17,14 persen, dari Asia lainnya (non-Asia Tenggara) naik 12,66 persen, dan dari Oseania meningkat 11,22 persen. Malaysia tercatat sebagai negara penyumbang wisman terbesar pada April 2026 dengan porsi 16,65 persen, diikuti oleh Australia (12,65%) dan China (10,73%).

Pertumbuhan jumlah kunjungan ini secara langsung berdampak pada peningkatan devisa sektor pariwisata. Pada kuartal I tahun 2026, pendapatan devisa dari sektor pariwisata tercatat mencapai USD 4,05 miliar atau setara dengan sekitar Rp68,28 triliun. Angka ini menunjukkan peningkatan sebesar 6,30 persen dibandingkan dengan periode yang sama di tahun sebelumnya. Meningkatnya “kualitas” pariwisata juga tercermin dari rata-rata pengeluaran wisatawan asing per kunjungan di kuartal I-2026 yang mencapai USD1.346, naik 5,36 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

“Fokus utama pemerintah tidak hanya pada angka agregat, tetapi juga pada bagaimana pertumbuhan pariwisata dapat dirasakan langsung oleh masyarakat luas,” ia menmabahkan.

Untuk itu, pemerintah gencar melaksanakan program penguatan desa wisata sebagai instrumen pemerataan pembangunan, dengan memberikan pendampingan, sertifikasi desa wisata berkelanjutan, dan sertifikasi halal bagi pelaku UMKM. Hingga 30 Mei 2026, Kemenpar bersama BPJPH telah memfasilitasi 31.548 sertifikasi halal bagi pelaku UMKM di 1.116 desa wisata yang tersebar di 34 provinsi.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *