ASIAWORLDVIEW – Masyarakat digital negeri ini memasuki babak baru yang lebih matang. Indeks Masyarakat Digital Indonesia (IMDI) yang dirilis Kementerian Komunikasi dan Digital pada 2025 mencatat skor nasional mencapai 44,53 poin dari skala 100, naik 1,19 poin dibandingkan tahun sebelumnya.
Di balik kenaikan itu, terdapat ketimpangan structural, pilar literasi digital justru turun 8,97 poin menjadi 49,28, sementara infrastruktur dan ekosistem justru naik menjadi 53,06 poin. Artinya, ketersediaan infrastruktur digital telah melesat jauh melampaui kemampuan masyarakat dalam memanfaatkannya secara optimal.
Hal itu juga dialami Erajaya yang telah berkembang jauh melampaui peran awalnya. Sejak berdiri 1996 silam, sebagai importir dan distributor perangkat telekomunikasi seluler, kini menjadi pemain utama dalam ekosistem gaya hidup pintar (lifestyle smart retailer) dengan jangkauan ritel seluas 2.333 jaringan toko yang didukung oleh 70 pusat distribusi di seluruh Indonesia.
Kinerja Erajaya pada awal 2026 mencerminkan ketangguhan strategi diversifikasi dan digitalisasi yang dijalankan. Perusahaan membukukan penjualan neto sebesar Rp22,4 triliun. Tumbuh 41,12 persen secara tahunan, dengan laba bersih mencapai Rp495,6 miliar. Angkanya melonjak tajam 133,49 persen.
Baca Juga: Komdigi: AI dan 5G, Pendorong Utama Transformasi Digital
Hasan Aula, Deputy Group CEO Erajaya, menegaskan bahwa pencapaian ini bukan kebetulan, melainkan hasil dari pemeliharaan fondasi bisnis yang dibangun selama tiga dekade. Sinergi antarunit bisnis menjadi kunci utama.
“Di balik angka-angka itu, terdapat strategi yang lebih fundamental. Erajaya memilih digitalisasi sebagai poros utama pertumbuhan jangka panjang, dengan fokus pada diversifikasi portofolio, penguatan kapabilitas digital, dan penciptaan nilai berkelanjutan bagi seluruh pemangku kepentingan,” ia mengatakan dalam keterangannya, baru-baru ini.
Salah satu langkah paling strategis yang diambil Erajaya dalam perjalanan tiga dekadenya adalah adopsi teknologi kecerdasan buatan dan manajemen data skala besar. Pada Maret 2026, perusahaan menerapkan solusi Salesforce Agentforce Marketing dan Data 360 untuk memperkokoh strategi pemasaran berbasis data bagi 18 juta pengguna program loyalitas mereka.
Peran Teknologi dalam Produktivitas dan Hiburan Masyarakat Modern

Transformasi digital Indonesia memang tengah bergerak dengan kecepatan tinggi. Pemerintah mencatat nilai transaksi digital (GMV) pada 2025 mencapai Rp1.645 triliun dan diproyeksikan melonjak tajam menjadi USD340 miliar pada 2030, dengan pertumbuhan dua digit yang didorong oleh dominasi e-commerce dan media online.
Di tengah gemuruh transformasi digital ini, PT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA), distributor dan peritel perangkat telekomunikasi seluler terbesar di Indonesia, tepat memasuki usia 30 tahun pada 2026. Momentum tiga dekade ini bukan sekadar perayaan, melainkan titik tolak bagi perusahaan untuk memperkuat posisinya di tengah perubahan lanskap ritel nasional.
Teknologi ini memungkinkan Erajaya mengonsolidasi data pelanggan dari berbagai lini bisnis—mulai dari komunikasi, komputer, elektronik konsumen, hingga gaya hidup—ke dalam satu tampilan terpadu, kemudian menerapkan metode hiper-personalisasi untuk memberikan rekomendasi produk dan promosi yang relevan secara individual.
President Director Salesforce Indonesia, Andreas Diantoro, menilai langkah Erajaya mencerminkan pergeseran fundamental industri ritel modern: strategi kini tidak lagi bergantung pada kanal terpisah, melainkan berpusat sepenuhnya pada data. Sistem ini mengotomatisasi interaksi di berbagai saluran komunikasi digital seperti email dan aplikasi seluler. Kondisi tersebut mengubah program loyalitas dari sekadar pengumpulan poin menjadi instrumen strategis dalam membangun hubungan jangka panjang dengan konsumen.
“Di usia yang ke-30, Erajaya tidak lagi hanya menjual perangkat, tetapi juga pengalaman dan personalisasi, sebuah pergeseran yang menandai bagaimana teknologi telah mengubah relasi antara produsen, distributor, dan konsumen secara permanen,” jelasnya.
Di ranah hiburan, Indonesia menunjukkan satu fakta yang tak terbantahkan. Pada 2024, pendapatan dari layanan streaming video berbayar (SVOD) di Tanah Air mencapai sekitar Rp9 triliun. Angka ini menjadikan Indonesia sebagai pasar terbesar di kawasan Asia Tenggara. Tingkat penetrasi pengguna SVOD diproyeksikan mencapai 8,4 persen pada 2025 dan akan terus bertambah menjadi 10 persen pada 2030. Platform seperti Netflix, Disney+, Vidio, dan Viu berlomba merebut perhatian 2,7 miliar lebih penduduk Indonesia—yang didominasi generasi muda dengan konsumsi konten yang tak pernah berhenti.

Namun, pola penggunaan kecerdasan buatan di Indonesia menunjukkan pergeseran yang menarik. Survei terbaru pada awal Juni 2026 mengungkap bahwa penggunaan AI untuk hiburan meningkat dari 29,5 persen pada 2025 menjadi 36,5 persen pada 2026, menandakan semakin populernya pemanfaatan teknologi generatif untuk membuat konten hiburan yang lebih personal dan imersif.
Kementerian Komunikasi dan Digital terus mengingatkan agar generasi muda tidak hanya menggunakan AI untuk bermain game atau konsumsi konten hiburan semata, tetapi juga untuk kegiatan produktif yang berdampak nyata. Hal itu karena AI bukan sekadar tren, melainkan fondasi masa depan industri yang akan menentukan posisi Indonesia dalam persaingan global.
Sektor produktivitas berbasis teknologi juga menunjukkan sumbangan yang tak kalah penting. Riset Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) bersama Universitas Paramadina yang dirilis pada 3 Juni 2026 menemukan bahwa ekosistem transportasi online (ojek online) berkontribusi Rp564,79 triliun terhadap PDB nasional, setara 2,37 persen, dengan dampak langsung dari sektor transportasi dan jasa terkait sebesar Rp169,12 triliun serta dampak tidak langsung melalui sektor pendukung mencapai Rp395,67 triliun.

Lebih dari sekadar angka agregat, kehadiran ojek online terbukti meningkatkan konsumsi rumah tangga riil sebesar 3,26 persen, upah riil masyarakat sebesar 2,37 persen, dan pertumbuhan PDB riil sebesar 1,66 persen. Hal paling menarik, layanan transportasi online justru mampu menekan laju inflasi hingga 0,16 persen melalui percepatan efisiensi distribusi barang dan jasa, sehingga tekanan kenaikan harga konsumen dapat dikurangi meskipun konsumsi dan upah tetap meningkat.
Ekosistem ini juga menciptakan 5,53 juta lapangan kerja, terdiri dari 2,91 juta tenaga kerja langsung sebagai pengemudi dan 2,62 juta tenaga kerja tidak langsung di sektor UMKM, logistik, perdagangan, dan jasa pendukung. Satu pengemudi bahkan mampu menghasilkan sekitar 1,6 tenaga kerja tambahan, menjadikan transportasi online sebagai bantalan ketenagakerjaan (employment buffer) yang krusial bagi pekerja perkotaan berkemampuan rendah-menengah dan korban PHK manufaktur. Dengan kata lain, teknologi tidak hanya mengubah cara masyarakat bekerja, tetapi juga menciptakan struktur ekonomi baru yang lebih inklusif dan tangguh.
Tantangan terbesar Indonesia di era digital bukan lagi membangun infrastruktur—saat ini terdapat 235 juta pengguna internet di Tanah Air, dengan ekspansi sinyal 5G yang meningkat 142,57 persen dan kecepatan broadband tetap yang kini mencapai 51,84 Mbps. Tantangan sejatinya adalah bagaimana mengubah koneksi yang melimpah itu menjadi produktivitas bermakna, baik secara ekonomi maupun sosial. Kenaikan indeks literasi digital yang justru turun perlu menjadi alarm bagi semua pihak untuk tidak terbuai oleh pesatnya pertumbuhan infrastruktur.
