ASIAWORLDVIEW – Tradisi menyajikan nasi tumpeng setiap 17 Agustus memiliki makna simbolis yang mendalam bagi masyarakat Indonesia. Tumpeng, dengan bentuk kerucutnya, melambangkan gunung sebagai tempat suci dan pusat kekuatan dalam budaya Jawa dan Bali, serta menjadi simbol ketuhanan dan harapan akan kemakmuran.
Sajian ini juga biasanya dihidangkan di momen Hari Kemerdekaan. Nasi tumpeng menjadi wujud syukur atas kebebasan yang telah diraih bangsa Indonesia. Warna merah dan putih pada tumpeng sering kali digunakan untuk merepresentasikan bendera nasional—merah berarti keberanian, putih berarti kesucian.
Tradisi ini diperkenalkan secara resmi sejak era Presiden Soeharto, ketika Ibu Tien Soeharto menggantikan kue tart dengan tumpeng sebagai simbol nasionalisme dan identitas budaya Indonesia. Lebih dari sekadar hidangan, tumpeng menjadi lambang kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur yang dirayakan bersama dalam semangat kemerdekaan.
Baca Juga: Merah Putih Berkibar, Upacara Proklamasi ke-80 diwarnai Ragam Busana Adat Nusantara
Mengutip dari
Mengutip dari jurnal pendidikan berjudul Menyelami Makna dan Filosofis Budaya Tumpeng sebagai Simbol Identitas Kearifan Lokal Bagi Masyarakat dari Sekolah Tinggi Filsafat Teologi Widya Sasana Malang, dijelaskan bahwa bentuk nasi tumpeng yang mengerucut menyerupai gunung melambangkan hubungan spiritual antara manusia dan Tuhan, serta mencerminkan puncak harapan dan cita-cita. Dalam budaya Jawa, kata “tumpeng” diyakini berasal dari akronim “tumapaking penguripan, tumindak lempeng, tumuju Pangeran,” yang berarti hidup lurus menuju Tuhan Yang Maha Esa.
Lauk-pauk yang mengelilingi tumpeng pun dipilih dengan filosofi tertentu—misalnya ayam jantan sebagai simbol menghindari sifat sombong, ikan lele melambangkan ketabahan, dan sayuran hijau sebagai lambang kesuburan. Masyarakat menilai sajian ini sebagai wujud doa kolektif agar diberi perlindungan, kelancaran, dan berkah dalam menjalani kehidupan.
Nasi tumpeng berakar dari tradisi kuno masyarakat Jawa yang memuliakan gunung sebagai simbol tempat bersemayam para dewa dan leluhur. Bentuk kerucut tumpeng merepresentasikan gunung suci Mahameru, yang dalam kepercayaan Hindu dianggap sebagai pusat alam semesta dan tempat tinggal para dewa.
Tradisi ini kemudian mengalami akulturasi dengan budaya Islam Jawa, di mana tumpeng menjadi simbol spiritual dan wujud syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam filosofi Islam Jawa, kata “tumpeng” diartikan sebagai akronim dari “yen metu kudu sing mempeng,” yang berarti jika keluar harus dengan sungguh-sungguh, mencerminkan semangat hidup yang lurus dan penuh tekad.
Tradisi tumpeng tidak hanya menjadi bagian dari ritual adat, tetapi juga berkembang sebagai simbol kebersamaan, doa, dan penghormatan terhadap nilai-nilai luhur dalam budaya Indonesia.
