Jangan Lupakan Kebersihan Kulit di Era Gaya Hidup Aktif

dr. Danar Wicaksono, MSc., SpDVE, Skin Expert & Healthy Lifestyle Enthusiast

ASIAWORLDVIEW – Bau badan muncul ketika bakteri alami di kulit menguraikan komponen dalam keringat, terutama asam lemak dan protein. Alhasil menghasilkan senyawa berbau khas.

dr. Danar Wicaksono, MSc., SpDVE, Skin Expert & Healthy Lifestyle Enthusiast, menjelaskan, dikutip Asia World View, Jumat (1/6/2026), bahwa pemahaman tentang waktu diperlukannya higienitas kulit perlu mendapat perhatian lebih. Perawatan menjadi semakin relevan bagi masyarakat dengan gaya hidup aktif dan mobilitas tinggi.

“Gaya hidup aktif membuat kulit secara alami berinteraksi dengan berbagai hal, mulai dari keringat saat berolahraga, paparan dari fasilitas publik, hingga kontak dengan permukaan yang digunakan bersama banyak orang. Selain itu, banyak yang belum menyadari berbagai situasi yang dapat meningkatkan paparan terhadap kuman penyebab penyakit,” ia mengatakan.

Untuk mengelola kondisi ini sehari-hari, rekomendasi dermatologi standar menekankan pentingnya menjaga kebersihan tubuh melalui mandi teratur menggunakan sabun biasa, mengganti pakaian yang telah dipakai agar tidak menjadi tempat berkembang biaknya bakteri, serta menggunakan produk deodoran atau antiperspiran sesuai kebutuhan.

Baca Juga: Cuaca Panas Memicu Risiko Gatal dan Ruam Kulit, Ini Cara Mencegahnya

“Kulit kita secara alami menjadi tempat hidup banyak mikroorganisme, termasuk bakteri yang merupakan bagian dari mikrobioma kulit alami. Sebagai contoh, banyak yang mengira bau badan disebabkan oleh keringat, padahal keringat sendiri sebenarnya hampir tidak berbau, bau muncul ketika bakteri yang ada di kulit menguraikan komponen dalam keringat,” ia menambahkan.

Deodoran bekerja dengan menutupi atau mengurangi bau, sementara antiperspiran membantu mengurangi produksi keringat sehingga sumber bau dapat ditekan. Perawatan sederhana ini, bila dilakukan secara konsisten, mampu menjaga kesegaran tubuh, meningkatkan rasa percaya diri, dan mencegah bau badan yang mengganggu aktivitas sosial maupun profesional.

“Untuk pengelolaan bau badan sehari-hari, rekomendasi dermatologi standar adalah perawatan kebersihan rutin seperti mandi teratur dengan sabun mandi biasa, mengganti pakaian secara teratur, serta penggunaan deodoran atau antiperspiran sesuai kebutuhan,” jelasnya.

Selain itu, pola hidup sehat seperti menjaga pola makan, menghindari konsumsi berlebihan makanan berbau tajam. Juga memastikan hidrasi tubuh juga berperan dalam mengurangi intensitas bau badan.

“Hal yang berbeda dengan pengelolaan harian tersebut, dan menjadi fokus pada gaya hidup aktif masa kini, adalah bagaimana kita mengelola situasi-situasi tertentu di mana paparan mikroorganisme pada kulit dan tangan menjadi lebih tinggi, misalnya setelah penggunaan fasilitas olahraga bersama, commuting, atau aktivitas di ruang publik dalam waktu lama, di mana kulit dan tangan banyak menyentuh permukaan yang digunakan bersama,” pungkasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *