IHSG Tertekan, Investor Asing Jual Rp544 Miliar

Ilustrasi penurunan harga saham.(freepik)

ASIAWORLDVIEW IHSG (Index Harga Saham Gabungan) hari ini, Jumat (22/5/2026), dibuka melemah 29,31 poin atau 0,48% ke level 6.065,63. Sementara indeks LQ45 juga turut terkoreksi 0,39% ke posisi 613,98.

Pelemahan ini merupakan kelanjutan dari tekanan tajam sehari sebelumnya, di mana IHSG ambruk 3,54% ke 6.094,94 dengan aksi jual bersih investor asing mencapai Rp 544,85 miliar. Potensi volatilitas tinggi masih membayangi pasar, dan para analis memproyeksikan IHSG berisiko menguji area psikologis 6.000, bahkan jika tembus dapat melanjutkan pelemahan ke kisaran 5.880–5.900.

Sentimen pasar masih sangat dipengaruhi oleh eskalasi konflik geopolitik di Timur Tengah. Meskipun pada perdagangan sebelumnya Wall Street sempat melonjak terdorong optimisme negosiasi AS-Iran, ketegangan kembali meningkat ketika Iran memperkeras sikap dan membentuk Persian Gulf Strait Authority yang mengawasi Selat Hormuz.

Akibatnya harga minyak bergerak sangat volatil, sempat melonjak hingga 4% sebelum akhirnya ditutup turun sekitar 2%. Angka ini menciptakan ketidakpastian yang membebani aset berisiko, termasuk saham emerging market.

Dolar AS atau USD bertahan di dekat level tertinggi enam minggu, menekan nilai tukar rupiah yang pagi itu kembali menembus level psikologis Rp17.700/US$. Risalah FOMC The Fed juga memberi sinyal suku bunga AS akan bertahan tinggi lebih lama karena inflasi belum sepenuhnya mereda, membuat arus dana global cenderung berhati-hati terhadap pasar negara berkembang.

Baca Juga: Pelemahan Ekonomi Makro, Tata Kelola BUMN Ekspor Jadi Kunci

Di dalam negeri, respons kebijakan justru memperburuk sentimen. Bank Indonesia menaikkan BI Rate sebesar 50 basis poin menjadi 5,25% dalam RDG 19–20 Mei 2026, kenaikan agresif untuk memperkuat stabilitas rupiah di tengah tekanan global. Namun langkah ini dinilai berpotensi menahan laju pertumbuhan kredit perbankan dan aktivitas ekonomi domestik, sehingga justru membebani pasar saham.

Sementara itu, rencana pemerintah untuk membentuk badan pengatur ekspor sumber daya alam (sentralisasi ekspor komoditas melalui BUMN) memunculkan kekhawatiran investor akan bertambahnya birokrasi dan potensi penurunan daya saing ekspor nasional, memicu aksi jual yang masif di pasar. Kombinasi kebijakan moneter yang ketat dan intervensi di sektor riil ini menciptakan ketidakpastian yang membuat investor domestik maupun asing mengambil posisi wait and see.

Secara teknikal, IHSG saat ini masih berada dalam tren bearish kuat dan belum menunjukkan sinyal pembalikan arah yang solid. Penurunan tajam yang telah menembus area support penting 6.200 dan 6.100 menunjukkan dominasi tekanan jual yang masih sangat tinggi. Namun, di tengah kepanikan ini, sejumlah analis melihat celah positif. Senior Market Analyst Mirae Asset menilai IHSG sudah berada dalam kondisi extremely oversold (jenuh jual ekstrem) dan indikator RSI mulai menunjukkan positive divergence, mengindikasikan tekanan pelemahan mulai terbatas.

Banyak saham kini diperdagangkan pada level valuasi yang sangat murah (deeply undervalued), berpotensi memicu minat beli selektif dari investor institusi domestik seperti dana pensiun dan perusahaan asuransi untuk melakukan bottom fishing. Para analis merekomendasikan investor untuk mulai fokus pada saham defensif dan emiten dengan fundamental kuat yang relatif tahan terhadap tekanan eksternal, serta tetap disiplin dalam mengelola risiko mengingat pergerakan indeks masih cenderung berada dalam fase panic selling dan high volatility.