ASIAWORLDVIEW – Kementerian Agama (Kemena) meminta jemaah Haji untuk menjaga diri dan selalu bersih selama beribadah di tanah suci. Hal itu merupakan bagian penting dari adab sekaligus bentuk penghormatan terhadap kesucian tempat ibadah.
Jamaah dianjurkan untuk senantiasa memperhatikan kebersihan tubuh, pakaian, serta lingkungan sekitar agar ibadah dapat dilakukan dengan khusyuk dan nyaman. Hal ini mencakup kebiasaan sederhana seperti rutin berwudhu, menjaga kebersihan pakaian ihram, serta membuang sampah pada tempatnya.
Pelaksana Tugas Kepala Pusat Kesehatan Haji RI, Dani Pramudya, menjelaskan jemaah wajib membiasakan diri mencuci tangan secara teratur menggunakan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan, setelah menggunakan toilet, dan setelah menyentuh permukaan umum. Jika air tidak tersedia, hand sanitizer berbasis alkohol minimal 60 persen dapat menjadi alternatif darurat.
Mengingat tingginya risiko infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) dan pneumonia yang disebabkan oleh debu gurun, polusi kendaraan, serta percikan droplet dari jemaah yang batuk atau bersin, masker bedah atau masker N95 dianjurkan dipakai hampir sepanjang waktu. Apalagi saat berada di area padat dan saat menjalankan sai atau tawaf.
Baca Juga: Pakar: Jemaah Haji Butuh Asupan Tepat untuk Cegah Kelelahan Saat Beribadah
Keamanan makanan dan minuman: jemaah harus memastikan setiap makanan yang dikonsumsi dalam kondisi bersih, matang sempurna, dan tidak terkontaminasi lalat atau debu. Hindari makanan mentah atau setengah matang, serta jajanan yang dibiarkan terbuka.
Untuk minuman, selain air zam-zam yang aman dikonsumsi karena mengandung mineral alami, jemaah disarankan meminum air kemasan yang segelnya masih utuh untuk menghindari risiko air terkontaminasi.
Selain aspek kebersihan, istirahat cukup dan manajemen diri menjadi fondasi tak terpisahkan agar tubuh tetap bugar sepanjang rangkaian ibadah.
Dr. Rita Ramayulis, ahli gizi, mengingatkan bahwa pengaturan waktu tidur dan istirahat sama pentingnya dengan latihan fisik pra-haji. Kurang tidur tidak hanya melemahkan sistem imun tetapi juga mengganggu konsentrasi dan kesabaran, yang sangat dibutuhkan saat menghadapi kepadatan jemaah. Sementara itu,
memberikan peringatan khusus bagi jemaah lanjut usia (lansia) yang rentan mengalami disorientasi atau kebingungan, terutama pada masa awal kedatangan di Arab Saudi. Kondisi ini dipicu oleh kombinasi kelelahan setelah penerbangan panjang, perubahan waktu (jet lag) yang drastis, serta perbedaan suhu ekstrem antara negara asal dan gurun Arab yang bisa mencapai 45 derajat Celsius. Gejala disorientasi bisa berupa lupa arah, sulit mengenali lingkungan, atau bahkan perilaku yang tidak biasa.
Untuk mencegahnya, jemaah—khususnya lansia—wajib memberikan prioritas utama pada istirahat yang cukup setidaknya 7–8 jam per hari, mengatur jadwal ibadah agar tidak memaksakan diri, menjaga asupan makanan bergizi seimbang, serta terus memenuhi kebutuhan cairan minimal 2–3 liter per hari.
