Pasar Kripto Lesu, Bos Tokocrypto: Tekanan Global Jadi Faktor Utama

Tokocrypto

ASIAWORLDVIEW – Pasar kripto tengah mengalami kelesuan yang cukup signifikan, dan kondisi ini juga tercermin di Indonesia. Penurunan aktivitas transaksi di dalam negeri tidak lepas dari tekanan global yang masih membayangi aset berisiko, termasuk kripto. Fluktuasi harga Bitcoin, kebijakan moneter internasional, serta melemahnya sentimen investor global membuat pasar kripto domestik ikut tertekan.

Hal itu diungkapkan CEO Tokocrypto, Calvin Kizana. Menurutnya, penurunan aktivitas transaksi kripto di dalam negeri tidak bisa dilepaskan dari tekanan global yang masih membayangi pasar aset berisiko.

“Kami melihat perlambatan transaksi kripto pada Maret 2026 lebih dipengaruhi oleh meningkatnya sentimen risk-off global. Investor saat ini cenderung lebih berhati-hati karena volatilitas masih tinggi, ketidakpastian geopolitik meningkat, dan arah kebijakan suku bunga The Fed masih menjadi perhatian utama pasar,” ujarnya, Asiaworldview mengutip siaran pers resmi, Senin (11/5/2026).

Kondisi penurunan aktivitas transaksi kripto memang tidak serta-merta menunjukkan hilangnya minat investor terhadap aset digital tersebut. Sebaliknya, banyak pelaku pasar masih bertahan di dalam ekosistem kripto, namun kini lebih memilih strategi yang defensif. Hal ini terlihat dari kecenderungan investor untuk lebih selektif dalam menempatkan modal, fokus pada aset yang dianggap lebih stabil seperti Bitcoin atau stablecoin, serta menunggu katalis makro yang lebih jelas sebelum kembali agresif.

Baca Juga: Pantau Pelemahan Harga Kripto, OJK Sebut Masih Dalam Batas Wajar

Strategi defensif ini mencerminkan sikap hati-hati menghadapi volatilitas tinggi, sekaligus menunjukkan bahwa minat terhadap kripto masih ada, hanya bergeser ke arah pengelolaan risiko yang lebih matang.Kondisi penurunan aktivitas transaksi kripto memang tidak serta-merta menunjukkan hilangnya minat investor terhadap aset digital tersebut.

Sebaliknya, banyak pelaku pasar masih bertahan di dalam ekosistem kripto, namun kini lebih memilih strategi yang defensif. Hal ini terlihat dari kecenderungan investor untuk lebih selektif dalam menempatkan modal, fokus pada aset yang dianggap lebih stabil seperti Bitcoin atau stablecoin, serta menunggu katalis makro yang lebih jelas sebelum kembali agresif. Strategi defensif ini mencerminkan sikap hati-hati menghadapi volatilitas tinggi, sekaligus menunjukkan bahwa minat terhadap kripto masih ada, hanya bergeser ke arah pengelolaan risiko yang lebih matang.

“Investor tidak sepenuhnya keluar dari pasar kripto. Yang terjadi adalah pergeseran strategi. Sebagian investor mulai mengurangi eksposur pada aset yang lebih spekulatif dan memilih aset yang lebih likuid atau stabil, seperti Bitcoin, Ethereum, stablecoin, hingga aset berbasis emas. Ini lebih tepat dibaca sebagai fase wait and see,” tambahnya.

Meski demikian, minat masyarakat Indonesia terhadap aset digital belum sepenuhnya surut, terlihat dari jumlah pengguna yang terus bertambah. Hal ini menunjukkan bahwa meskipun pasar kripto sedang lesu, ekosistem kripto di Indonesia masih memiliki potensi untuk bangkit kembali seiring membaiknya kondisi global dan meningkatnya adopsi teknologi blockchain.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *