ASIAWORLDVIEW – Pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Jumat (27/3/2026), nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat melemah tipis sebesar 14 poin atau sekitar 0,14 persen. Rupiah bergerak dari posisi penutupan sebelumnya di Rp16.904 per dolar AS menjadi Rp16.928 per dolar AS.
Pelemahan ini mencerminkan adanya tekanan eksternal maupun faktor domestik yang memengaruhi pergerakan mata uang. Misalnya, dinamika pasar global, sentimen investor, serta kondisi ekonomi dalam negeri.
Baca Juga: Nilai Tukar Rupiah Melemah, Menkeu Purbaya Yakin Ekonomi Domestik Tetap Solid
Pelemahan rupiah kali ini salah satunya dipengaruhi oleh volatilitas harga minyak dunia. Ketidakstabilan harga minyak menciptakan ketidakpastian di pasar global.
Hal itu karena minyak merupakan komoditas strategis yang berhubungan langsung dengan inflasi, biaya produksi, serta neraca perdagangan negara. Ketika harga minyak berfluktuasi tajam, investor cenderung bersikap lebih hati-hati dan mengalihkan aset ke instrumen yang dianggap lebih aman, seperti dolar AS.
Akibatnya, permintaan terhadap dolar meningkat dan menekan nilai tukar rupiah. Kondisi ini menunjukkan betapa sensitifnya mata uang domestik terhadap dinamika harga komoditas global, terutama energi, yang menjadi salah satu faktor utama dalam pergerakan pasar keuangan.
