ASIAWORLDVIEW – Indonesia terus melaporkan kanker sebagai salah satu penyebab utama beban penyakit pada perempuan di kawasan Asia. Jenis kanker yang paling umum ditemukan meliputi kanker payudara, kanker serviks, dan kanker kolorektal.
Data Global Cancer Observatory menunjukkan tren peningkatan yang konsisten dalam jumlah kasus kanker di Indonesia. Pada tahun 2022 tercatat sebanyak 408.661 kasus kanker dengan 242.988 kematian, meningkat signifikan dibandingkan tahun 2018 yang mencatat 348.809 kasus dan 207.210 kematian. Peningkatan ini menegaskan adanya lonjakan nyata baik dalam insidensi maupun mortalitas kanker dalam kurun waktu empat tahun, sekaligus mencerminkan tantangan serius bagi sistem kesehatan nasional.
“Tes semacam ini lebih untuk membangun kesadaran dan bukan untuk menciptakan rasa takut terhadap penyakit,” ujar Dr. Lynette Ngo, Konsultan Senior Onkologi Medis di Centre for Genomic Health, Mount Elizabeth Novena Hospital, dikutip Asiaworldview, Selasa (23/12/2025).
Namun, banyak kasus kanker terjadi tanpa riwayat keluarga yang diketahui dan mungkin tidak memiliki program pemeriksaan yang secara umum tersedia. Di sinilah teknologi Multi-Cancer Early Detection (MCED) memegang peranan penting. MCED adalah metode pemeriksaan baru yang dirancang untuk mendeteksi sinyal potensi kanker dengan hanya melalui satu kali pengambilan sampel darah, sekaligus mengidentifikasi dari jaringan mana kanker tersebut mungkin berasal.
Baca Juga: Riset: 76% Populasi Dunia Kekurangan Asupan Omega-3
Teknologi ini menawarkan opsi lebih luas bagi perempuan yang ingin memprioritaskan langkah pencegahan kanker. Tes ini khususnya disarankan bagi orang dewasa tanpa gejala berusia 40 tahun keatas, dan sebaiknya dilakukan sebagai bagian dari rencana layanan kesehatan preventif yang dipandu oleh dokter, dengan mempertimbangkan faktor risiko, nilai, serta preferensi pribadi pasien.
“Tes genetik tidak memprediksi kanker, namun dapat memperjelas apakah seseorang membawa risiko keturunan secara genetik. Mengetahui adanya kecenderungan genetik memungkinkan kami menyusun rencana pengobatan risiko yang dipersonalisasi.
Rencana ini bisa mencakup pemeriksaan mendalam yang lebih terarah, pemantauan rutin oleh spesialis, serta penerapan gaya hidup sehat yang terbukti secara medis—tanpa harus menunggu hingga gejala muncul. Informasi di awal dari tes ini membantu mendeteksi potensi masalah jauh lebih cepat, sehingga memberikan peluang pencegahan terbaik bagi perempuan dan keluarga.
Dr. Lynette Ngo menambahkan, “Jika hasil tes menunjukkan risiko yang lebih tinggi, kami dapat segera merencanakan langkah selanjutnya secara cepat bersama pasien, yang dapat meliputi pengambilan gambar (imaging) yang lebih terarah, pengawasan bersama spesialis yang tepat, dan strategi pengurangan risiko lain yang diperlukan.”
