Jakarta di Persimpangan: Dari Riuh Bajaj ke Kota Global

Suasana malam Kota Jakarta.

ASIAWORLDVIEW – Pidato Kebudayaan DKJ 2025 dengan tema “Membaca Jakarta dari Suara Bajaj hingga Mimpi Jadi Kota Global” merefleksikan perjalanan panjang Jakarta sebagai kota yang terus bertransformasi dari wajah lokal yang penuh dinamika menuju aspirasi global. “Suara Bajaj” menjadi simbol keseharian warga, representasi identitas urban yang khas, penuh riuh dan warna.

“Bajaj merupakan kendaraan pengganti kenangan saya tentang becak di masa kanak-kanak saya. Kendaraan yang brutal ini sebenarnya sangat berbeda dengan becak. Sejak saya mulai sekolah di taman kanak-kanak dan sekolah dasar di jalan Kwini, Jakarta Pusat, becaklah yang mengantar saya ke sekolah dan kemudian menjemput saat pulang sekolah. Orang tua tidak khawatir abang becak akan menculik anaknya,” ujar Afrizal Malna dalam pembukaan pidatonya, dikutip Asiaworldview, Kamis (13/11/2025).

Baca Juga: Transformasi Jakarta, dari Ibu Kota ke Kota Bisnis dan Global

Sementara mimpi menjadi kota global mencerminkan ambisi Jakarta untuk menempatkan diri sejajar dengan metropoli dunia. Pidato ini menekankan kebudayaan berperan sebagai jembatan antara tradisi dan modernitas, serta sebagai fondasi bagi pembangunan kota yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing internasional.

“Apakah kota global itu: Rumusan AI: “Adalah kota yang bisa menjadi pusat jaringan ekonomi dan politik global. Sebagai pusat keuangan, perdagangan, dan jasa global; tempat berbagai perusahaan transnasional maupun multinasional menjalankan bisnisnya. Pusat inovasi budaya, tempat
berkumpulnya seniman-seniman dunia, dan acara-acara kesenian berskala internasional. Memiliki infrastruktur transportasi dan komunikasi yang canggih, mampu menghubungkan dan mempengaruhi kota-kota di seluruh dunia. Mampu mengembangkan teknologi baru yang berpengaruh secara global.” Afrizal Malna, mewakili Pulau Pramuka.

Memori kolektif, agensi ruang dan warga, serta perkembangan kota menjadi elemen penting bagi langkah-langkah kota Jakarta. DKJ mengajak masyarakat untuk melihat bahwa transformasi kota bukan hanya soal infrastruktur, tetapi juga tentang menjaga ruh kebudayaan agar tetap hidup di tengah arus globalisasi.