ASIAWORLDVIEW – Harga emas (XAU/USD) kembali mencetak rekor tertinggi dengan tren kenaikan yang konsisten, mencerminkan sentimen pasar yang kuat terhadap aset safe haven ini. Pada sesi perdagangan Amerika Utara, Senin (13/10), harga emas berhasil menembus level psikologis penting di atas USD4.100, menandai momentum bullish yang signifikan. Tren positif ini berlanjut hingga awal sesi Asia pada Selasa (15/10), di mana harga emas mendekati level USD4.130. Kenaikan ini didorong oleh meningkatnya permintaan investor terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian ekonomi global dan ekspektasi pelonggaran kebijakan moneter.
Reli emas yang terjadi mencerminkan tingginya minat investor terhadap aset safe-haven di tengah ketidakpastian global. Momentum positif masih berpihak pada emas, memberikan peluang bagi trader yang mampu memanfaatkan arah pasar dengan strategi yang tepat.
Eskalasi konflik perdagangan AS–China menjadi pendorong utama reli harga emas. Presiden AS, Donald Trump, baru-baru ini mengumumkan kebijakan baru yang lebih keras terhadap China, termasuk penerapan tarif 100% untuk seluruh barang impor asal Negeri Tirai Bambu serta pembatasan ekspor perangkat lunak strategis buatan AS yang akan berlaku mulai 1 November. Meskipun Trump kemudian menenangkan pasar dengan pernyataan bahwa “semuanya akan baik-baik saja,” kekhawatiran terhadap perang dagang masih membebani pelaku pasar.
Baca Juga: Emas Cetak Sejarah, Investor Berburu Aset Aman di Tengah Ketidakpastian
Faktor lain yang memperkuat reli emas adalah meningkatnya ekspektasi pemangkasan suku bunga lanjutan oleh The Federal Reserve (The Fed). Pasar kini memperkirakan penurunan suku bunga sebesar 25 basis poin pada rapat Oktober, dan kemungkinan lanjutan pada Desember mendatang. Kebijakan suku bunga rendah ini membuat emas semakin menarik karena menurunkan biaya peluang untuk memegang aset tanpa imbal hasil.
Meski demikian, sejumlah analis memperingatkan potensi koreksi harga setelah kenaikan signifikan lebih dari 56% sepanjang tahun ini. Suki Cooper, Kepala Riset Komoditas Global Standard Chartered Bank, menilai bahwa “Rally emas masih memiliki ruang untuk tumbuh, tetapi konsolidasi jangka pendek akan lebih sehat bagi kelanjutan tren naiknya.”
Sementara itu, imbal hasil obligasi AS tenor 10 tahun turun delapan basis poin ke 4,059%, dan imbal hasil riil juga menurun ke 1,742%, kondisi yang semakin memperkuat dukungan terhadap harga emas. Analis dari Bank of America serta Societe Generale bahkan memperkirakan harga emas bisa mencapai $5.000 pada tahun 2026, sedangkan Standard Chartered menaikkan target rata-rata untuk tahun depan menjadi USD4.488.
