ASIAWORLDVIEW – Emas kembali menunjukkan minat beli yang tinggi di sesi Asia dan untuk pertama kalinya, ada perdagangan hari ini, Rabu (8/10). Menembus level USD4.000 per troy ounce, memperbarui rekor sejarahnya.
Kenaikan ini turut diperkuat oleh meningkatnya ekspektasi terhadap kemungkinan dua kali pemangkasan suku bunga The Fed tahun ini, disertai eskalasi risiko geopolitik dan ketidakpastian akibat penutupan pemerintahan Amerika Serikat (AS) yang kini memasuki minggu kedua.
Sebelumnya, setelah berhasil menembus rekor tertinggi sepanjang masa di level USD3.991 per troy ounce dalam sesi perdagangan Amerika Utara. Logam mulia ini kemudian ditutup di sekitar USD3.982, naik sekitar 0,60% dibandingkan hari sebelumnya.
Menurut alat CME FedWatch, peluang pemangkasan suku bunga sebesar 25 basis poin (bp) pada pertemuan The Fed bulan Oktober mencapai sekitar 83%, yang berpotensi menurunkan kisaran suku bunga menjadi 3,75%–4,00%. Penurunan suku bunga akan mengurangi biaya peluang memegang aset tanpa imbal hasil seperti emas, sehingga meningkatkan daya tarik logam mulia ini di mata investor global.
Baca Juga: Cadangan Emas Tetap Utuh, BI Tegaskan Komitmen Transparansi dan Stabilitas
Selain faktor kebijakan moneter, ketegangan politik di Jepang dan Prancis turut memperkuat permintaan terhadap aset aman. Di Jepang, kemenangan mengejutkan Sanae Takaichi dalam pemilihan kepemimpinan Partai Demokrat Liberal (LDP) menimbulkan ketidakpastian terhadap arah kebijakan Bank of Japan (BoJ).
Sementara di Prancis, pengunduran diri Perdana Menteri Sebastien Lecornu beserta kabinetnya beberapa jam setelah dilantik memperdalam krisis politik di negara tersebut.
Pelaku pasar kini menantikan risalah rapat FOMC yang akan dirilis Kamis dini hari untuk mencari petunjuk lebih lanjut mengenai arah kebijakan The Fed. Dengan latar belakang ketegangan geopolitik, prospek pemangkasan suku bunga, serta meningkatnya minat terhadap aset aman, prospek emas dalam jangka pendek diperkirakan tetap positif.
