Rupiah Melemah Tipis ke Rp18.033, Tekanan Global Masih Membayangi

Teller menghitung dolar AS atau USD di tengah tumpukan Rupiah.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali tertekan dan bertahan di level psikologis Rp18.000 pada Jumat (22/20/2026), melanjutkan pelemahan tipis yang terjadi sejak sehari sebelumnya. Rupiah dibuka melemah 11 poin atau sekitar 0,06 persen ke level Rp18.033 per dolar AS, dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp18.022.

Data menunjukkan pembukaan yang sedikit lebih dalam, yakni melemah 16 poin atau 0,09 persen ke Rp18.038 hingga Rp18.039 per dolar AS. Sementara itu, kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia justru mencatat penguatan 0,11 persen menjadi Rp17.986 per dolar AS dari posisi sebelumnya Rp18.006, menciptakan divergensi arah antara kurs spot dan JISDOR yang mencerminkan dinamika pasar yang belum stabil .

Pemicu utama pelemahan rupiah hari ini adalah keputusan Bank Indonesia (BI) yang mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) di level 5,75 persen dalam Rapat Dewan Gubernur pada 20–21 Oktober 2026, sebuah langkah yang di luar ekspektasi sebagian pasar . Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova, menyatakan bahwa pelemahan rupiah dipengaruhi oleh hasil keputusan RDG BI yang menahan suku bunga acuan tetap di 5,75 persen.

Baca Juga: BI Andalkan Intervensi Berlapis Hadapi Tekanan terhadap Rupiah

Analis Doo Financial, Lukman Leong, juga menilai bahwa rupiah masih berpotensi melemah setelah BI di luar perkiraan tidak menaikkan suku bunga. Meskipun demikian, BI tidak tinggal diam: bank sentral menaikkan suku bunga deposit facility sebesar 25 basis poin menjadi 5 persen, mempertahankan lending facility di 6,5 persen, serta menurunkan Giro Wajib Minimum (GWM) perbankan sebesar 2 persen untuk memperkuat likuiditas rupiah. BI juga memperkuat insentif instrumen Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) untuk menarik aliran modal asing dan menjaga stabilitas nilai tukar .

Dari sisi eksternal, tekanan terhadap rupiah masih datang dari ekspektasi kebijakan moneter Amerika Serikat yang tetap ketat dalam waktu lebih lama (higher for longer). Pelaku pasar mencermati data ekonomi dan pernyataan pejabat The Fed menjelang rapat FOMC pada 28 Oktober mendatang, yang sebagian besar masih memproyeksikan satu kenaikan suku bunga tambahan tahun ini . Ekonom Universitas Airlangga, Rahma Gafmi, menjelaskan bahwa ekspektasi ini menjaga yield US Treasury tetap atraktif, sehingga memicu aliran modal keluar dari pasar keuangan emerging markets, termasuk Indonesia. Selain itu, ketegangan geopolitik di Timur Tengah yang mendorong harga minyak Brent bertahan di atas USD105 per barel turut menambah beban pada neraca perdagangan migas Indonesia dan memperkuat sentimen risk-off di pasar global.

Sentimen negatif terkait Morgan Stanley Capital International (MSCI) yang membuka konsultasi untuk menurunkan status pasar saham Indonesia menjadi standalone market masih menjadi bayang-bayang tambahan. BI disebut terus mewaspadai risiko arus keluar modal asing di pasar saham domestik usai pengumuman MSCI tersebut.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *