ASIAWORLDVIEW – Penyelenggaran Trade Expo Indonesia (TEI) ke-41 menjadi sinyal positif bagi prospek ekspor nasional di tengah dinamika perdagangan global yang masih penuh tantangan. Bukan sekadar pameran dagang tahunan, melainkan representasi dari upaya pemerintah memperkuat posisi Indonesia sebagai pemain penting dalam perdagangan global sekaligus mendorong transformasi ekonomi berbasis ekspor yang lebih inklusif dan berkelanjutan.
Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan, dikutip Asia World View, Kamis (15/10/2026), bahwa hingga hari pembukaan pameran, sebanyak 134 negara telah mendaftarkan buyer untuk berpartisipasi dalam ajang bisnis terbesar Indonesia tersebut, sementara jumlah exhibitor yang terlibat mencapai 1.873 perusahaan dari berbagai sektor unggulan. Tingginya minat pelaku usaha global ini mendorong optimisme pemerintah untuk mencapai target 30.000 pengunjung dengan potensi transaksi sebesar USD 17,5 miliar sepanjang penyelenggaraan pameran.
“TEI merupakan salah satu program Kemendag untuk menjaring peluang ekspor yang lebih luas dengan cara mempertemukan pelaku usaha Indonesia dan calon buyer mancanegara. Pameran ini menampilkan beragam produk unggulan nasional mulai dari makanan dan minuman, pertanian, manufaktur, fesyen dan kriya, furnitur dan dekorasi rumah, hingga kawasan industri untuk menarik minat investor,” ia menjelaskan.
Bahkan, pada hari pertama pelaksanaan saja telah dijadwalkan penandatanganan 168 nota kesepahaman (MoU) antara eksportir Indonesia dan buyer dari 22 negara, yang menunjukkan adanya permintaan konkret terhadap produk dan jasa Indonesia serta semakin kuatnya posisi Indonesia dalam rantai perdagangan internasional.
Sebagai instrumen strategis pengembangan ekspor, TEI tidak hanya berfungsi sebagai ajang promosi produk nasional, tetapi juga menjadi platform bisnis yang mempertemukan produsen Indonesia dengan calon pembeli, distributor, investor, dan mitra dagang dari berbagai belahan dunia.
Melalui pameran ini, pemerintah berupaya memperluas akses pasar bagi pelaku usaha nasional dengan menampilkan beragam produk unggulan yang memiliki daya saing global, mulai dari sektor makanan dan minuman, produk pertanian, manufaktur, fesyen dan kriya, furnitur dan dekorasi rumah, hingga promosi kawasan industri yang ditujukan untuk menarik investasi. Keberagaman sektor yang ditampilkan mencerminkan upaya Indonesia untuk memperkuat struktur ekspor yang lebih bernilai tambah dan tidak hanya bergantung pada komoditas primer.
“Indonesia saat ini telah memiliki 25 perjanjian dagang yang telah diimplementasikan dan masih mengupayakan penyelesaian 13 perjanjian lainnya yang berada dalam tahap perundingan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memperluas akses pasar, menurunkan hambatan perdagangan, serta menciptakan peluang baru bagi produk Indonesia di berbagai kawasan dunia,” pungkasnya.
Lebih jauh, ia menambahkan, keberhasilan mempertemukan eksportir dan buyer dalam TEI tidak dapat dilepaskan dari diplomasi perdagangan yang terus dijalankan pemerintah. Terkait Program Dari Lokal untuk Global, Kemendag konsisten mendorong usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) untuk memasuki pasar ekspor. Salah satu upayanya adalah memfasilitasi penjajakan bisnis (business matching) antara UMKM dan calon buyer mancanegara. Fasilitasi tersebut didukung 46 kantor perwakilan perdagangan RI di 33 negara yang terdiri atas atase perdagangan RI, Indonesia Trade Promotion Center (ITPC), Konsul Perdagangan RI di Hong Kong, Kantor Dagang dan Ekonomi Indonesia (KDEI) di Taipei, dan Duta Besar RI untuk Organisasi Perdagangan Dunia (WTO).
“Kami juga mengupayakan fasilitasi ekspor melalui Desa Berani Inovasi, Siap Adaptasi (BISA) Ekspor yang telah mengidentifikasi banyak produk potensial dari desa untuk dikembangkan menembus pasar ekspor. Selain itu, kami menjalin kemitraan antara UMKM dan ritel dalam negeri sehingga produk-produk lokal semakin mendominasi pasar domestik,” ungkapnya.
