TEI 2026 Catat Transaksi 131 Persen dari Target, Makanan dan Minuman Jadi Komoditas Unggulan

ASIAWORLDVIEW – Trade Expo Indonesia (TEI) 2026 ditutup dengan capaian yang jauh melampaui target. Pameran dagang tahunan itu membukukan total nilai transaksi sebesar USD22,94 miliar, atau setara 131 persen dari target pemerintah yang ditetapkan USD10,5 miliar. Angka ini bukan sekadar rekor, melainkan sinyal bahwa produk Indonesia—dari makanan dan minuman hingga perhiasan dan produk kayu—semakin diterima di pasar global, bahkan di tengah tekanan ekonomi dunia yang belum sepenuhnya pulih.

Menteri Perdagangan Budi Santoso mengungkapkan bahwa nilai transaksi tersebut juga menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Angkanya mencapai USD22,68 miliar terhadap target USD16,5 miliar.

“Dari total transaksi tersebut, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) menyumbang US$510,79 juta,” ujar Menteri Budi Santoso, dikutip Asia World View, Senin (19/10/2026)

Kontribusi UMKM ini penting dicatat karena menunjukkan bahwa pameran dagang tidak hanya menjadi ajang bagi korporasi besar, tetapi juga memberi ruang bagi pelaku usaha kecil untuk masuk ke rantai pasok global. Menurut Kementerian Perdagangan, lima negara dengan nilai transaksi tertinggi pada pameran tahun ini adalah India, Belanda, Bangladesh, Uni Emirat Arab, dan Jepang. Dari sisi komoditas, kategori ekspor yang menonjol meliputi makanan dan minuman, perhiasan, produk kayu, barang pertanian, serta produk peternakan.

Baca Juga: TEI 2026 Jadi Mesin Baru Ekspor Indonesia, Targetkan Transaksi USD 17,5 Miliar

Keberhasilan ini didorong oleh program penjangkauan bisnis dan business matching yang gencar dilakukan oleh perwakilan dagang Indonesia di luar negeri sejak setahun sebelum pameran. Melalui skema tersebut, calon pembeli mengenal produk dan eksportir domestik sebelum menghadiri acara, bahkan beberapa di antaranya mengunjungi pabrik secara langsung untuk menandatangani Nota Kesepahaman (MoU).

Kepala Badan Pengembangan dan Pengendalian Ekspor Khusus (Bappisus) Aries Marsudiyanto menambahkan bahwa potensi ekspor nasional masih sangat terbuka lebar, didukung oleh pasar domestik yang kuat, keragaman produk, dan sumber daya alam yang melimpah. Dengan populasi mencapai sekitar 300 juta jiwa, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperluas pasar ekspor, termasuk produk UMKM serta sektor ekonomi digital dan kreatif.

“Oleh karena itu, peningkatan kreativitas, inovasi, kemampuan negosiasi, diplomasi dagang, dan manajemen bisnis menjadi kunci untuk memperkuat daya saing produk Indonesia di pasar global,” ujar Aries.

Ia juga menekankan pentingnya sinergi dan kolaborasi lintas institusi untuk membangun ekosistem perdagangan yang profesional dari hulu ke hilir.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *