Rupiah Bergerak di Zona Merah, Kenaikan Harga Minyak Tambah Tekanan

Teller bank tengah menghitung tumpukan Dolar AS dan Rupiah.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS kembali bergerak melemah di awal perdagangan, dibuka turun tipis pada Rabu (14/10/2026), ke kisaran Rp17.905 hingga Rp17.918 per dolar AS. Kondisi ini melanjutkan tekanan yang terjadi pada sesi sebelumnya.

Berdasarkan data, rupiah dibuka melemah 5 poin atau 0,03 persen ke level Rp17.905 per dolar AS pada pukul 09.20 WIB. Data Refinitiv menunjukkan posisi yang tidak jauh berbeda, dengan rupiah berada di Rp17.914 per dolar AS atau melemah 14 poin atau 0,08 persen dibandingkan penutupan sebelumnya.

Pelemahan rupiah pada hari ini dipengaruhi oleh beberapa faktor eksternal yang saling berkaitan. Analis Doo Financial, Lukman Leong, menyatakan bahwa rupiah tertekan oleh kenaikan kembali harga minyak dunia. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman November naik sebesar 1,89 dolar AS atau 2,06 persen menjadi 93,74 dolar AS per barel, sementara Brent untuk pengiriman Desember naik 1,93 dolar AS atau 1,84 persen menjadi 106,65 dolar AS per barel.

Kenaikan ini dipicu oleh serangan terhadap fasilitas Saudi Aramco di Dhahran, Arab Saudi, oleh kelompok Houthi, yang memicu kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan energi dari Timur Tengah. Bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak, kenaikan harga minyak global berdampak langsung pada membengkaknya beban impor dan memperburuk defisit neraca perdagangan, yang pada gilirannya memberikan tekanan pada nilai tukar rupiah.

Baca Juga: DPR Bahas RUU Kawasan Industri, Sinkronisasi Regulasi Jadi Sorotan Utama

Namun, tekanan terhadap rupiah tidak sepenuhnya berlangsung tanpa hambatan. Rupiah memperoleh dukungan dari koreksi indeks dolar AS dan penurunan imbal hasil obligasi pemerintah AS (US Treasury) setelah pernyataan dovish dari pejabat The Fed, John Williams. Ia melihat satu kenaikan suku bunga tahun ini, namun menilai tidak diperlukan kenaikan lebih lanjut pada tahun 2027. Pernyataan ini meredakan ekspektasi pasar terhadap kebijakan moneter yang lebih agresif, sehingga indeks dolar AS terpantau melemah 0,07 persen ke area 102,130 pada pukul 09.00 WIB . Koreksi dolar AS ini memberikan sedikit ruang bagi rupiah untuk menahan pelemahan yang lebih dalam.

Dari sisi sentimen pasar, investor cenderung bersikap wait and see menjelang rilis data inflasi Amerika Serikat yang akan diumumkan pada malam hari. Data Consumer Price Index (CPI) dan Producer Price Index (PPI) AS periode September 2026 menjadi perhatian utama karena akan memberikan petunjuk mengenai arah kebijakan suku bunga The Fed ke depan.

Inflasi inti diperkirakan naik dari 2,4 persen menjadi 2,5 persen, sedangkan inflasi umum diprediksi meningkat dari 3,4 persen menjadi 3,6 persen . Jika realisasi inflasi lebih tinggi dari ekspektasi, dolar AS berpotensi menguat lebih lanjut dan memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah. Sebaliknya, jika inflasi lebih rendah dari perkiraan, rupiah berpeluang mendapatkan ruang untuk menguat.

Dari sisi domestik, perhatian pasar juga tertuju pada komitmen pemerintah dalam menjaga disiplin fiskal. Menteri Keuangan Suahasil Nazara menegaskan bahwa pemerintah akan mempertahankan defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) maksimal 3 persen terhadap produk domestik bruto (PDB), serta rasio utang pemerintah tidak melampaui 60 persen terhadap PDB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *