ASIAWORLDVIEW – Sejumlah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) swasta di Jakarta seperti Shell dan BP-AKR mengalami krisis pasokan bahan bakar minyak (BBM), khususnya untuk jenis bensin RON 92 dan RON 95. Kondisi ini menyebabkan beberapa stasiun tutup atau hanya melayani penjualan solar, sementara papan harga BBM dimatikan sebagai tanda stok kosong.
Di SPBU BP dan Shell Daan Mogot, misalnya, BBM yang tersedia hanya untuk diesel. Kondisi ini terjadi selama hampir tiga minggu, dan belum ada kepastian kapan pasokan akan kembali normal.
“Belum tahu sampai kapan!? Ini sudah dari akhir Agustus 2025 kemarin, kosong semua. Paling tersedia untuk Diesel,” sebut Yanto, seorang petugas SPBU BP-AKR Daan Mogot kepada Asiaworldview.com, Jumat (12/9/2025).
Baca Juga: ESDM Pastikan Stok BBM Indonesia Tetap Aman di Tengah Ketegangan Geopolitik

BP-AKR, melalui Presiden Direktur Vanda Laura, menyampaikan bahwa beberapa jaringan SPBU mereka di Jakarta mengalami keterbatasan stok BBM, khususnya untuk jenis BP Ultimate dan BP 92, sehingga tidak dapat melayani penjualan secara lengkap. Meski demikian, SPBU BP tetap beroperasi untuk menyediakan produk yang masih tersedia dan layanan lainnya. Vanda menegaskan bahwa BP-AKR berkomitmen memulihkan pasokan dengan berkoordinasi aktif bersama pihak terkait, mengoptimalkan distribusi, serta mencari alternatif pasokan dalam negeri.
Mereka juga menyiapkan skenario operasional agar layanan pelanggan tetap berjalan dengan baik. Permintaan maaf pun disampaikan kepada masyarakat atas ketidaknyamanan yang terjadi, sembari mengapresiasi kepercayaan publik terhadap SPBU BP.
Sementara, Shell Indonesia menyebutkan bahwa gangguan pengadaan dan distribusi menjadi penyebab utama kelangkaan ini, sementara BP-AKR mengonfirmasi keterbatasan stok di sejumlah jaringan mereka.
Situasi ini diperburuk oleh lonjakan konsumsi BBM nonsubsidi akibat kebijakan QR Code untuk pembelian Pertalite, yang mendorong masyarakat beralih ke BBM alternatif.
Pemerintah melalui Kementerian ESDM tengah berkoordinasi dengan BPH Migas untuk mencari solusi, termasuk sinkronisasi impor antara Pertamina dan badan usaha swasta guna menjaga stabilitas pasokan nasional
