Bitcoin Gagal Breakout, Tertahan di USD86.000

Bitcoin (

ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin (BTC) bergerak dalam fase konsolidasi yang rapuh di sekitar level USD85.500 hingga USD86.000, setelah gagal menembus resistance kunci di USD87.000 yang telah menjadi tembok psikologis sejak akhir September. Faktor dominan yang menekan Bitcoin hari ini adalah penguatan dolar AS yang mencapai level tertinggi dalam 18 bulan. Indeks Dolar AS (DXY) menyentuh sekitar 102,5 pada Senin (5/10), naik dari sekitar 99 pada awal September dan kini berada di atas rata-rata pergerakan 200 harinya.

Penguatan dolar ini secara langsung mengurangi daya beli investor di luar AS dan membuat aset berisiko seperti Bitcoin menjadi kurang menarik secara relatif. Kondisi yang lebih menekan lagi adalah lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS: yield tenor 30 tahun kembali melewati 5,67%, hanya dua basis poin di bawah level tertinggi 24 tahun, sementara tenor 10 tahun naik ke 5,31%, mendekati puncak pekan sebelumnya di 5,34%.

QCP Capital menilai bahwa tingginya harga minyak dan yield jangka panjang masih membatasi momentum kenaikan aset berisiko, meskipun data ketenagakerjaan AS terbaru menunjukkan kondisi yang lebih longgar. Dalam konteks ekonomi, kenaikan yield Treasury meningkatkan biaya peluang (opportunity cost) untuk memegang Bitcoin yang tidak menghasilkan imbal hasil, sehingga investor cenderung mengalihkan dana ke instrumen pendapatan tetap yang lebih aman.

Baca Juga: Bitcoin Melonjak di Tengah Tingkat Pengangguran AS

Bitcoin tercatat telah tiga kali gagal menembus level USD87.000 sejak 23 September. Peraihan tersebut menjadikannya resistance yang sangat kuat. Meskipun menghadapi resistance, sinyal teknikal jangka menengah masih positif. Bitcoin mencatat “golden cross” di sekitar USD86.000, dengan 50-day EMA telah melintasi 200-day EMA pada pertengahan September.

Di sisi positif, arus masuk ke ETF Bitcoin spot AS tetap menjadi penopang struktural. ETF Bitcoin spot mencatat net inflow harian sebesar USD189,84 juta, dengan total aset bersih mencapai USD101,1 miliar. Sepanjang September, ETF Bitcoin spot menarik sekitar USD2,65 miliar, dan data on-chain menunjukkan pemegang tetap berada dalam posisi profit tanpa aksi jual agresif. Strategy juga dilaporkan menambah 334 Bitcoin baru-baru ini, menegaskan bahwa permintaan institusional belum sepenuhnya goyah. Namun, arus masuk ETF mulai mendingin dari puncaknya, dan ini turut memperberat momentum BTC di tengah tekanan makroekonomi yang masih kuat.

Data dari CoinGlass menunjukkan total likuidasi mencapai USD194 juta dalam 24 jam, dengan posisi long menyumbang USD114 juta dan posisi short USD80,65 juta. Kondisi ini menandakan bahwa baik pembeli maupun penjual sama-sama terkena dampak volatilitas.

Latar belakang makroekonomi sebenarnya cukup mendukung aset berisiko. Data Nonfarm Payrolls (NFP) September 2026 menunjukkan ekonomi AS hanya menambah 29.000 pekerjaan—jauh di bawah ekspektasi 90.000—dengan tingkat pengangguran naik menjadi 4,2% dan pertumbuhan upah melambat menjadi 3,0%. Data ini secara signifikan menurunkan ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed: probabilitas kenaikan pada Oktober turun dari sekitar 64% sebelum data menjadi hanya 16–22% setelahnya. Namun, pasar obligasi tidak sepenuhnya merespons dovish: yield Treasury justru tetap tinggi karena kekhawatiran inflasi energi dan defisit fiskal AS. Harga minyak yang masih tinggi di atas US$100 per barel akibat ketegangan geopolitik di Timur Tengah turut memperkuat ekspektasi inflasi yang lebih persisten, sehingga membatasi ruang bagi The Fed untuk melonggarkan kebijakan secara agresif.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *