ASIAWORLDVIEW – Acara 16th UOB Painting of the Year (POY) Indonesia, ajang seni rupa bergengsi yang digelar pada 2026 untuk menyoroti karya-karya terbaik seniman Indonesia lintas generasi. Kompetisi ini tidak hanya menjadi wadah apresiasi, tetapi juga berfungsi sebagai platform pengembangan karier seniman, dengan kategori Emerging Artist bagi talenta baru dan Established Artist bagi seniman yang telah menunjukkan konsistensi artistik.
UOB Indonesia menganugerahkan penghargaan tertinggi kategori Established Artist pada 16th UOB Painting of the Year (POY) Indonesia kepada Begok Oner melalui karya berjudul “Urban Realism Layers”. Pencapaian ini menarik dibaca bukan hanya sebagai kemenangan kompetisi, tetapi sebagai penanda perjalanan artistik yang cukup konsisten.
Pada 2023, Oner meraih Most Promising Artist of the Year dalam kategori Emerging Artist. Dua tahun kemudian, ia berdiri di kategori yang lebih matang. Dalam lanskap seni rupa Indonesia, lintasan semacam ini menunjukkan sesuatu yang jarang: seorang seniman muda yang tidak terjebak pada satu formula visual, melainkan terus mengembangkan bahasa, medium, dan gagasan. UOB POY sendiri memang dirancang untuk mengawal seniman di berbagai tahap perjalanan kreatif, dan kasus Oner menjadi contoh bagaimana penghargaan semacam ini bisa menjadi semacam penanda fase, bukan sekadar ajang kompetisi tahunan.
Hal yang membuat karya ini menarik dalam konteks seni kontemporer adalah cara Oner menghubungkan bahasa visual masa kini dengan lukisan gua prasejarah. Ia menyebut gua Lascaux di Prancis hingga situs seni cadas kuno di Sulawesi Selatan. Ini bukan sekadar permainan referensi historis, melainkan upaya melihat bahwa dorongan manusia untuk meninggalkan jejak, berkomunikasi, dan terhubung sebenarnya telah berlangsung ribuan tahun. Jika dinding gua menjadi tempat manusia purba menorehkan tanda, maka dinding kota menjadi tempat manusia modern menuliskan kecemasan, keinginan, dan identitasnya. Oner mempertemukan dua zaman itu dalam satu permukaan yang relief dan bertekstur.
“Ketika melihat jejak yang ditinggalkan manusia ribuan tahun lalu, saya melihat sesuatu yang sebenarnya masih sangat dekat dengan kehidupan kita saat ini,” ujarnya.
Baca Juga: Julius Baer Rayakan 20 Tahun di Asia dengan Dukungan Art Jakarta 2026
Secara visual, “Urban Realism Layers” bekerja pada permukaan yang padat dan bertumpuk. Oner memadukan lapisan gambar, kata-kata, dan jejak yang mengingatkan pada dinding ruang publik—permukaan yang setiap hari menerima tulisan, poster, coretan, iklan, dan sisa-sisa kehadiran manusia.
Dengan semen plester dan tekstur berlapis, ia menciptakan kesan relief yang membuat karya tidak hanya dibaca sebagai gambar, tetapi juga sebagai objek yang punya ketebalan dan sejarah material. Di tangan Oner, permukaan itu menjadi semacam palimpsest: lapisan demi lapisan cerita saling menimpa, saling menutup, tetapi tidak sepenuhnya hilang. Ada semacam arkeologi visual di sana, tempat kota tidak lagi hanya menjadi latar, melainkan arsip yang hidup.
Dewan juri yang terdiri dari Melati Suryodarmo sebagai Chief Judge, Dr. Agung Hujatnika, dan Heri Pemad menilai karya Oner menunjukkan kematangan dalam mengembangkan gagasan yang berangkat dari dunia visualnya sendiri. Melati menyebut Oner mampu mengambil sesuatu yang akrab dan mengajak penonton melihatnya dari sudut pandang berbeda, menghubungkan ekspresi kontemporer dengan sejarah yang berlangsung ribuan tahun.
Ini adalah persoalan bagaimana seorang seniman membangun karakter artistik yang khas: tidak hanya memilih tema, tetapi juga menciptakan cara melihat. Oner tampaknya sedang membangun karakter itu—sebuah bahasa yang membiarkan masa lalu dan masa kini hadir berdampingan secara halus, tetapi tetap kuat.
Sebagai peraih penghargaan tertinggi, Oner menerima hadiah uang tunai Rp250 juta. Karyanya akan berkompetisi dengan pemenang dari Malaysia, Singapura, Thailand, dan Vietnam untuk memperebutkan UOB Southeast Asian POY yang akan diumumkan di Singapura pada 28 Oktober 2026. Ia juga berkesempatan mengikuti program residensi seni di luar negeri yang disponsori UOB. Dalam ekosistem seni Asia Tenggara, forum semacam ini penting bukan hanya sebagai ajang pengakuan, tetapi juga sebagai ruang pertemuan wacana.
Karya Oner membawa persoalan yang sangat lokal—jejak kota, dinding publik, seni cadas Sulawesi—tetapi sekaligus menyentuh pengalaman manusia yang lebih luas. Di situlah kekuatannya: ia tidak berbicara tentang kota hanya sebagai tempat, melainkan tentang manusia yang terus meninggalkan tanda, entah di dinding gua atau di dinding beton, sebagai cara untuk mengatakan bahwa mereka pernah ada.
