ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) Bursa Efek Indonesia (BEI) dibuka di zona hijau dengan penguatan 50,14 poin atau 0,78 persen ke level 6.512,57 pada Jumat (18/9/2026). Kondisi ini melanjutkan tren positif dari penutupan hari sebelumnya yang menguat 0,4 persen di level 6.462,43.
Penguatan ini tercatat sebagai pembukaan yang solid menjelang akhir pekan, dengan indeks LQ45 turut naik tipis 0,41 poin atau 0,06 persen ke posisi 648,79. Pergerakan IHSG pada awal sesi berlangsung dinamis, dengan level tertinggi sempat menyentuh 6.521,02 dan terendah di 6.490,48, sebelum akhirnya bergerak stabil di kisaran 6.500-6.505 pada pukul 09.05-09.15 WIB. Volume transaksi tercatat sekitar 1,90 miliar saham dengan nilai turnover Rp988,69 miliar dan frekuensi transaksi 130.086 kali, sementara kapitalisasi pasar mencapai Rp11.362 triliun.
Dari sisi sektoral, sembilan dari sebelas sektor berada di zona hijau dan menjadi penopang utama kenaikan IHSG. Sektor energi memimpin dengan kenaikan 1,72-1,77 persen, disusul sektor teknologi yang naik 0,98 persen dan sektor barang baku yang menguat 0,67 persen. Sektor konsumer primer, transportasi, infrastruktur, industri, properti, serta konsumer non-primer juga turut menguat, meski dengan besaran yang lebih moderat. Sebaliknya, dua sektor tercatat melemah, yaitu sektor kesehatan yang turun 0,48 persen dan sektor keuangan yang terkoreksi 0,33 persen, mencerminkan tekanan pada saham-saham perbankan dan farmasi.
Baca Juga: BI Catat 65,77 Juta Pengguna QRIS, 96% UMKM Terserap Ekonomi Digital
Pada jajaran saham LQ45, PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) menjadi top gainer dengan kenaikan 3,09 persen, diikuti PT Hartadinata Abadi Tbk (HRTA) yang naik 2,35 persen dan PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA) yang menguat 1,92 persen. Sementara itu, PT Bukit Asam (Persero) Tbk (PTBA) mencatat penurunan terbesar di LQ45 dengan koreksi 1,29 persen, diikuti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) yang turun 1,20 persen.
Secara teknikal, Tim Analis Phintraco Sekuritas memperkirakan IHSG masih memiliki peluang untuk melanjutkan penguatan, dengan indikator Stochastic RSI yang membentuk Golden Cross di area oversold dan IHSG yang bertahan di atas level 6.400. Mereka memproyeksikan IHSG bergerak menguji level 6.500 hingga 6.550 pada perdagangan hari ini. IHSG masih berada dalam kondisi mixed, dengan peluang penguatan tetap terbuka meski risiko koreksi masih membayangi. Dalam skenario terburuk, IHSG diperkirakan masih rawan menguji kembali area 6.290-6.370, namun selama mampu bertahan di atas 6.370, indeks berpeluang menguat ke rentang 6.541-6.581.
Dari sisi sentimen eksternal, pasar menilai kenaikan suku bunga The Federal Reserve telah terantisipasi (price in) sebelumnya, sehingga sentimen global tetap positif dan indeks Wall Street kompak ditutup menguat. Koreksi harga minyak dunia juga diperkirakan menjadi salah satu faktor positif bagi pergerakan pasar, seiring turunnya imbal hasil obligasi pemerintah AS dan meredanya harga minyak mentah global. Selain itu, pasar mencermati pembahasan revisi Undang-Undang Keuangan Negara oleh DPR RI, khususnya terkait batas maksimal defisit APBN.
Jika batas defisit dinaikkan dari level tiga persen PDB, dampak positifnya adalah memberi fleksibilitas bagi pemerintah untuk membiayai program-program pembangunan, meskipun terdapat risiko kenaikan utang dan beban bunga yang perlu diperhatikan. Pada saat yang sama, pasar juga menantikan konferensi pers APBN KiTa yang akan disampaikan Menteri Keuangan Suahasil Nazara, yang akan membahas realisasi pendapatan dan belanja negara hingga Agustus 2026. Secara keseluruhan, pembukaan IHSG pada 18 September 2026 mencerminkan optimisme pasar yang didukung oleh penguatan sektor energi dan teknologi, meskipun tekanan pada sektor keuangan dan kesehatan menahan laju kenaikan indeks secara lebih agresif.

