Pakar: Film Horor Jadi Diplomasi Budaya Indonesia

ASIAWORLDVIEW – Dino Patti Djalal membawa bobot yang sama sekali berbeda ke meja perbincangan, dan justru di situlah nilai jualnya. Ia bukan sosok yang biasa tampil di red carpet film horor. Ia dikenal sebagai diplomat senior, mantan Wakil Menteri Luar Negeri, pendiri Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), dan kini Chairman Indonesian Diaspora Network Global. Kehadirannya dalam diskursus kebangkitan film horor Indonesia memberi dimensi yang jarang tersentuh: horor sebagai diplomasi budaya.

“Film horor bukan sekadar tontonan yang bikin penonton menutup mata. Ini menjadi pintu masuk untuk memperkenalkan narasi, mitologi, dan cara pandang Indonesia ke panggung global. Dan Australia, bagi seorang diplomat yang lama berkecimpung di kawasan Indo-Pasifik, adalah pintu terdekat yang paling masuk akal,” sebutnya dalam koferensi pers di Jakarta, Kamis (17/9/2026).

Menurutnya, negara-negara middle powers seperti Indonesia dan Australia akan memainkan peran yang menentukan dalam tatanan dunia berikutnya. Film horor bisa menjadi jembatan lunak yang menghubungkan dua tetangga yang secara politik kadang canggung, tapi secara kultural punya banyak ruang untuk bertemu.

Baca Juga: Indonesia Net-Zero Summit Dorong Transisi Energi dan Diplomasi Iklim

Sementara itu, Sulistyawan Wibisono atau yang akrab disapa Iwan, membawa perspektif dari sisi yang lebih praktis dan berbasis komunitas. Ia adalah Presiden Indonesian Diaspora Network (IDN) Global dan dikenal aktif membangun jembatan antara Indonesia dan Australia, termasuk melalui berbagai inisiatif budaya di Victoria.

“Jaringan diaspora Indonesia di Australia dapat menjadi penonton awal, distributor alami, sekaligus penggerak promosi dari mulut ke mulut,” jelasnya.

Iwan tahu persis bagaimana selera penonton Australia bekerja, bagaimana festival film dan komunitas diaspora di sana bergerak, serta bagaimana sebuah produk budaya Indonesia bisa masuk dan diterima—bukan sekadar sebagai eksotisme, tapi sebagai tontonan yang punya nilai jual. Baginya, kebangkitan film horor Indonesia adalah peluang yang tidak boleh dilewatkan.

“Film seperti Sewu Dino dan Janur Ireng telah menunjukkan bahwa horor Indonesia punya daya tarik lintas batas, dengan atmosfer yang khas dan cerita yang berakar pada tradisi lokal. Australia, dengan populasi diaspora Indonesia yang cukup besar dan penonton yang terbuka terhadap genre horor Asia, menjadi pasar yang logis untuk digarap lebih serius,” ia menjelaskan.

Dino Patti Djalal dan Sulistyawan Wibisono melihat film horor sebagai aset budaya dan diplomasi publik. Dengan cerita yang unik, menjadi daya tarik lintas batas.

Konferensi pers ini juga menghadirkan aktor-aktor seperti Yayan Ruhian, Wulan Guritno, Masayu Anastasia, Hamish Daud, dan Shalom Razade. Mereka juga ikut memeriahkan dan mendukung kegiatan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *