ASIAWORLDVIEW – Rupiah berpotensi mencapai Rp 16.000 per dollar AS karena ketegangan geopolitik dan penguatan dollar AS terus menekan mata uang lainnya. Rupiah melemah 43 poin, atau 0,27%, menjadi Rp 15.914 per dollar AS, turun dari Rp 15.871.
Kebijakan moneter Federal Reserve memainkan peran besar dalam kekuatan dolar AS. Jika The Fed menaikkan suku bunga untuk memerangi inflasi atau menstabilkan perekonomian, hal ini akan meningkatkan permintaan aset dalam mata uang dolar AS. Dolar yang lebih kuat mengakibatkan mata uang lain, termasuk rupiah, terdepresiasi terhadap mata uang tersebut.
Sebagai mata uang cadangan global, dolar AS selalu diminati untuk perdagangan internasional, investasi, dan sebagai tempat berlindung yang aman pada saat terjadi ketidakstabilan ekonomi atau geopolitik. Permintaan global yang terus berlanjut ini semakin mendukung kekuatan dolar dan melemahkan mata uang seperti rupiah.
Baca Juga: Inflasi Terkendali, BI Pertahankan Suku Bunga Acuan pada Level 6%
Indonesia mengalami defisit perdagangan, yang berarti negara ini mengimpor lebih banyak barang dan jasa daripada mengekspornya. Defisit perdagangan yang terus-menerus menciptakan tekanan terhadap nilai tukar rupiah karena memerlukan lebih banyak mata uang asing (biasanya dolar AS) untuk membayar impor, sehingga melemahkan nilai tukar Rupiah.
Inflasi global dan kenaikan harga energi juga mempengaruhi neraca pembayaran Indonesia, sehingga menjadi lebih mahal bagi negara tersebut untuk mengimpor barang. Hal ini dapat menyebabkan tekanan lebih lanjut terhadap rupiah karena permintaan terhadap dolar meningkat.
