ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) dibuka perkasa dan melanjutkan tren penguatan pada Rabu (9/9/2026), dibandingkan hari sebelumnya. Berdasarkan data dari berbagai sumber, rupiah ditransaksikan di rentang Rp17.554 hingga Rp17.590 per dolar AS. Pergerakan ini mengonfirmasi bahwa rupiah berhasil keluar dari level psikologis Rp17.600 yang sempat menjadi bayangan pelemahan pada pekan-pekan sebelumnya.
Penguatan rupiah terlihat dari berbagai platform perdagangan. Berdasarkan data, rupiah dibuka di level Rp17.554 per dolar AS, menguat tajam 0,44% atau 78 poin dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.632. Sumber lain mencatat rupiah di level Rp17.555, Rp17.567, Rp17.570, Rp17.573, Rp17.577, dan Rp17.588. Variasi angka ini mencerminkan dinamika transaksi antar pelaku pasar di menit-menit awal perdagangan, namun secara keseluruhan menunjukkan konsolidasi penguatan di bawah level Rp17.600.
Pergerakan rupiah juga sejalan dengan mayoritas mata uang Asia yang menguat terhadap dolar AS. Yen Jepang menjadi mata uang dengan penguatan terbesar di Asia, melonjak hingga 0,27%, diikuti peso Filipina, dolar Taiwan, dan won Korea Selatan.
Analis Doo Financial Lukman Leong menyatakan bahwa penguatan rupiah didorong oleh sentimen domestik yang masih kuat, terutama sejak pelantikan Destry Damayanti sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI). Selain itu, data cadangan devisa Indonesia yang dirilis sebelumnya turut menjadi katalis positif. Bank Indonesia mencatat cadangan devisa mencapai USD146,5 miliar pada akhir Agustus 2026, naik dari USD145,3 miliar pada Juli.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Kenaikan ini dipengaruhi oleh penerimaan pajak dan jasa, penarikan pinjaman luar negeri pemerintah, serta kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah. Posisi cadangan devisa yang setara dengan pembiayaan 5,4 bulan impor ini dinilai mampu menopang ketahanan sektor eksternal dan menjaga stabilitas makroekonomi.
Kondisi ini juga terjadi akibat Indeks dolar AS (DXY) tertekan di level 98—menandakan pelemahan greenback secara umum. Pelemahan ini sebagian besar disumbangkan oleh penguatan tajam yen Jepang, yang mencapai level terkuat dalam tujuh bulan terakhir di sekitar 152,89 – 153,5 yen per dolar AS. Yen menguat didorong oleh intervensi besar-besaran Bank of Japan (BoJ), ekspektasi kenaikan suku bunga BoJ sebesar 25 basis poin pada pertemuan 17-18 September, serta ancaman dari Menteri Keuangan AS agar para trader tidak melawan penguatan yen. Karena yen merupakan salah satu komponen utama dalam indeks dolar AS, penguatan yen secara otomatis menekan DXY dan membuka ruang bagi penguatan rupiah.
Dari dalam negeri, Survei Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia untuk Agustus 2026 dijadwalkan rilis siang hari itu, dengan perkiraan meningkat tipis dari 116,8 menjadi 117. Kenaikan IKK berpotensi memperkuat keyakinan terhadap konsumsi dan pertumbuhan ekonomi domestik, yang menopang sentimen terhadap rupiah.
Dari luar negeri, investor juga mencermati data inflasi AS (Indeks Harga Produsen/PPI dan Indeks Harga Konsumen/CPI) yang akan menjadi petunjuk arah kebijakan moneter The Federal Reserve dalam pertemuan FOMC pada 15-16 September mendatang. Sikap wait and see ini membuat pergerakan rupiah cenderung terkonsolidasi.
Meskipun menguat, laju rupiah masih tertahan oleh beberapa faktor. Harga minyak mentah dunia terus melonjak mendekati USD98 per barel akibat eskalasi konflik di Timur Tengah, di mana AS mengklaim telah menghancurkan lima kapal tanker Iran. Kenaikan harga minyak berpotensi menekan rupiah mengingat Indonesia sebagai negara pengimpor minyak. Selain itu, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun naik dua basis poin menjadi 4,804%, yang dapat menjaga daya tarik aset berdenominasi dolar dan membatasi ruang penguatan rupiah.

