ASIAWORLDVIEW – Masyarakat yang tinggal di sekitar wilayah terdampak erupsi gunung api perlu meningkatkan kewaspadaan, sebab ancaman abu vulkanik terhadap kesehatan tidak berhenti saat letusan usai. Partikel-partikel halus tersebut masih menyimpan risiko kesehatan yang berlangsung berhari-hari hingga berminggu-minggu setelah erupsi mereda.
“Selama abu masih menumpuk di tanah, atap, dan jalan, partikelnya akan terangkat kembali ke udara oleh angin, lalu lintas kendaraan, dan aktivitas pembersihan. Jadi risikonya berlanjut hingga abu benar-benar dibersihkan atau tersapu hujan,” jelas Dokter Sukamto Koesnoe, Wakil Ketua I Pengurus Pusat Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), mengingatkan, Asia World View mengutip darri Antara, Selasa (8/9/2026).
Abu vulkanik bukanlah debu biasa. Dokter Sukamto menekankan bahwa partikelnya memiliki sifat tajam, bersudut, mengandung silika, dan sebagian berukuran sangat halus yakni PM10 dan PM2.5. Ukuran mikroskopis ini memungkinkan partikel terhirup hingga ke saluran napas bawah bahkan alveolus—kantong udara kecil di paru-paru yang berperan vital dalam pertukaran oksigen.
Akibatnya, gangguan pernapasan menjadi keluhan yang paling sering muncul. Masyarakat yang terpapar dapat mengalami iritasi hidung, tenggorokan kering dan nyeri, batuk kering, sesak napas, hingga sensasi dada terasa berat. Bagi penderita penyakit kronis seperti asma, PPOK (Penyakit Paru Obstruktif Kronis), bronkitis kronik, dan rinitis alergi, paparan ini menjadi pemicu serangan atau perburukan kondisi yang tidak boleh dianggap remeh.
“Partikel abu vulkanik yang terhirup dapat memicu eksaserbasi pada pasien dengan penyakit kronik,” tegas Sukamto.
Baca Juga: Jangan Bersihkan Abu Vulkanik Gunung Anak Krakatau dalam Kondisi Kering, Mengapa?
Lebih jauh, iritasi pada mukosa saluran napas dapat melemahkan pertahanan lokal, sehingga meningkatkan risiko infeksi saluran napas akut. Ia memberikan rekomendasi penting bagi pasien penyakit paru kronis dan lansia.
“Status vaksinasi influenza dan pneumokokus sebaiknya diperbarui. Ini bagian dari perlindungan yang sering terlupakan.”
Dampak abu vulkanik terhadap kesehatan tidak terbatas pada sistem pernapasan. Dokter Sukamto memaparkan bahwa mata juga berisiko mengalami iritasi, mata merah, konjungtivitis, hingga lecet pada kornea akibat partikel abu yang tajam.
“Pengguna lensa kontak paling berisiko dan sebaiknya beralih sementara ke kacamata,” imbaunya.
Pada kulit, partikel abu dapat menimbulkan iritasi, gatal, hingga dermatitis, terutama jika abu bersifat asam atau bercampur dengan keringat. Risiko lain muncul ketika abu mencemari makanan dan air minum yang tidak terlindungi, berpotensi mengganggu saluran pencernaan. Partikel PM2.5 dari abu vulkanik juga berdampak pada jantung dan pembuluh darah, dapat memicu perburukan kondisi pada penderita penyakit jantung.
“Silikosis memang risiko jangka panjang dari paparan berulang bertahun-tahun. Yang lebih relevan untuk masyarakat umum saat ini adalah dampak akut yang saya sebutkan di atas.”
Bagi penderita asma dan PPOK, ia mewajibkan mereka untuk memastikan obat pengontrol dan obat pelega selalu tersedia dan dibawa saat bepergian.
“Segera ke fasilitas kesehatan bila muncul sesak yang memberat atau mengi yang tidak mereda dengan inhaler, nyeri dada, demam dengan batuk berdahak yang menetap, atau nyeri mata dan penglihatan kabur,” pesan dokter pendidik klinik utama di Divisi Endokrinologi, Imunologi, dan Infeksi Departemen Penyakit Dalam RSCM ini.
Ia merekomendasikan penggunaan masker jenis N95, KN95, atau FFP2 sebagai pilihan terbaik. Namun dengan syarat mutlak: masker harus terpasang rapat tanpa celah di sisi hidung dan pipi.
“Kuncinya bukan hanya bahan penyaring, tetapi kerapatan segel ke wajah,” tegasnya.
Perlu diketahui, beberapa gunung api di Indonesia belakangan mengalami erupsi dalam waktu yang berdekatan, termasuk Gunung Anak Krakatau, Ibu, Semeru, Lewotobi Laki-laki, Ili Lewotolok, dan Sinabung. Menurut informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), persebaran abu vulkanik akibat erupsi Gunung Anak Krakatau di perairan Selat Sunda pada 7 September 2026 pukul 15.00 WIB teridentifikasi mengarah ke bagian wilayah Banten, Jawa Barat, Lampung, dan Bengkulu.
Masyarakat di wilayah tersebut diimbau untuk tetap waspada dan menerapkan langkah-langkah perlindungan diri demi menjaga kesehatan di tengah ancaman abu vulkanik yang masih mengintai. Kesehatan adalah investasi berharga yang harus dijaga, terutama di masa-masa kritis seperti ini.

