Bicara di Dentons Shenzhen, Maulana Wiga Tekankan Pentingnya Adaptasi Teknologi Startup

Wiga

ASIAWORLDVIEW – Maulana Wiga, Ketua Umum Asosiasi Startup for Industry Indonesia (STARFINDO) untuk periode 2026-2029, menjadi pembicara dalam Indonesia Investment Environment and Economic Policy Seminar” di Dentons Shenzhen Center, Ping An Financial Center.

Acara ini menjadi wadah strategis yang mempertemukan para profesional hukum dan pelaku bisnis dari Tiongkok dengan para pemangku kepentingan industri di Indonesia, mencerminkan komitmen Dentons untuk mendukung pertumbuhan investasi dan peluang bisnis di antara kedua yurisdiksi.

“Peluang investasi di sektor-sektor strategis Indonesia seperti energi, manufaktur, dan teknologi menunjukkan arah kebijakan yang berorientasi pada transformasi ekonomi jangka panjang. Fokus ini sejalan dengan visi kepemimpinan yang ingin memperkuat posisi STARFINDO agar mampu beradaptasi dengan perubahan teknologi dan kebutuhan pasar global,” ia mengatakan kepada Asia World View, Kamis (3/9/2026).

Sektor energi, misalnya, menjadi krusial karena Indonesia tengah mendorong transisi menuju energi bersih dan terbarukan. Alhasil membuka ruang bagi investor untuk masuk ke proyek-proyek pembangkit listrik hijau, baterai, dan infrastruktur energi modern. Di sisi manufaktur, peluang besar muncul dari upaya pemerintah membangun rantai pasok domestik yang lebih kuat, termasuk pengolahan bahan baku dan produksi komponen bernilai tambah.

Baca Juga: Chairman STARFINDO: Indonesia Membangun Rantai Nilai Domestik di Tengah Pergeseran Perdagangan Global

Sementara itu, sektor teknologi menjadi katalis utama dalam mendukung efisiensi industri dan mempercepat digitalisasi. Startup yang bergerak di bidang teknologi industri, seperti otomasi, kecerdasan buatan, dan Internet of Things (IoT), memiliki potensi besar untuk mengisi celah kebutuhan pasar sekaligus meningkatkan daya saing global.

Pendekatan ini tidak hanya membuka peluang investasi, tetapi juga memperkuat ekosistem bisnis yang berkelanjutan. Investor yang mampu melakukan lokalisasi kapabilitas—yakni membangun produksi, riset, dan pengembangan di dalam negeri—akan lebih selaras dengan kebijakan industri nasional serta kebutuhan konsumen lokal. Dengan demikian, arah investasi di sektor energi, manufaktur, dan teknologi bukan hanya soal keuntungan finansial, tetapi juga tentang membangun fondasi ekonomi Indonesia yang lebih resilien dan kompetitif di tingkat global.

Seminar ini juga tidak hanya berhenti pada diskusi teoretis, tetapi membahas secara gamblang isu-isu praktis yang sering dihadapi perusahaan Tiongkok ketika berinvestasi di Indonesia, seperti proses pendirian usaha, tantangan operasional sehari-hari, hingga strategi menjaga kepatuhan terhadap kebijakan lokal yang dinamis. Dengan adanya forum ini, diharapkan tercipta pemahaman yang lebih mendalam mengenai arah kebijakan ekonomi Indonesia, sehingga investor asing dapat mengambil keputusan yang lebih tepat dan strategis dalam memasuki pasar Indonesia yang terus berkembang.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *