ASIAWORLDVIEW – Harga Bitcoin (BTC) bergerak stabil di kisaran USD78.000, Selasa (1/9/2026), mencerminkan fase konsolidasi setelah reli spektakuler sepanjang Agustus 2026 yang mencapai hampir 25%. Meski sempat menembus level psikologis USD80.000 pada akhir Agustus, Bitcoin kembali terkoreksi dan kini berupaya membangun momentum untuk menembus level resistensi tersebut.
Sepanjang perdagangan, Bitcoin bergerak dalam rentang USD77.024 hingga USD79.250. Pergerakan ini menunjukkan adanya tarik-menarik antara pembeli dan penjual di tengah upaya Bitcoin membangun kembali momentum bullish setelah reli pekan lalu.
Meskipun sempat terkoreksi dari level di atas USD80.000, Bitcoin menunjukkan ketahanan yang relatif kuat. Sepanjang Agustus 2026, Bitcoin mencatatkan kenaikan lebih dari 25%. Bahkan dalam sepekan hingga 23 Agustus, BTC sempat membukukan kenaikan 23,5% dengan harga bertambah sekitar USD14.775. Momentum bullish yang kuat ini masih memberikan efek positif bagi sentimen pasar.
Pembeli berhasil mempertahankan harga di atas area USD77.000-USD78.000. Meskipun sempat turun ke USD77.024 akibat ketegangan militer AS-Iran, BTC segera kembali naik dan mendekati USD79.000. Ini menunjukkan bahwa masih ada minat beli yang cukup kuat untuk menyerap tekanan jual.
Konflik militer antara AS dan Iran di Selat Hormuz meningkat, dengan AS melancarkan serangan terhadap fasilitas militer Iran pada 31 Agustus. Hal ini mendorong harga minyak Brent naik di atas USD90 per barel dan menciptakan ketidakpastian di pasar global, yang cenderung menekan aset berisiko seperti Bitcoin.
Baca Juga: Bitcoin Tertahan di Bawah USD80.000, ETF Spot Jadi Arah Penentu
Pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh di Jackson Hole yang cenderung hawkish mendorong imbal hasil (yield) obligasi AS tenor 10 tahun ke level 4,77%, tertinggi sejak Januari 2025. Ekspektasi pasar untuk kenaikan suku bunga 25 basis poin pada September naik menjadi sekitar 65%. Suku bunga yang lebih tinggi cenderung memperkuat dolar AS dan menekan aset-aset berisiko.
Kombinasi suku bunga tinggi dan harga minyak yang melonjak menciptakan tekanan makroekonomi yang signifikan. Dalam kondisi seperti ini, Bitcoin menghadapi ujian support yang lebih berat.
Secara teknis, area USD79.000-USD80.000 saat ini menjadi zona resistensi utama. Untuk dapat melanjutkan reli, Bitcoin membutuhkan volume perdagangan yang lebih kuat untuk menembus level tersebut. Jika imbal hasil obligasi 10 tahun tetap di atas 4,75% dan harga minyak tetap di sekitar USD90, breakout di atas USD80.000 akan semakin sulit.
Indeks berada di level 62 (Greed), turun dari 69 sebelumnya, mengindikasikan sentimen pasar yang masih optimis namun mulai mereda. Level support utama berada di USD77.000-USD78.000. Sementara resistance terdekat di USD79.000-USD80.000.

