ASIAWORLDVIEW – Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla di Gunung Bromo pada Agustus 2026 terjadi sejak 3 Agustus 2026, hingga kini pihak berwenang belum bisa sepenuhnya memadamkannya. Api sempat meluas dari Blok Bantengan ke sejumlah titik di kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru, sehingga memicu penutupan sementara beberapa akses wisata demi keselamatan pengunjung dan memperlancar pemadaman.
Kebakaran ini awalnya dilaporkan dalam skala kecil, sekitar 7,9 hektar, kemudian dalam beberapa hari berkembang menjadi 60 hektar, 120 hektar, 176,20 hektar. Pada perkembangan lebih lanjut dilaporkan mencapai sekitar 520 hektar di wilayah Gunung Bromo.
Bahkan laporan lain pada pertengahan Agustus menyebut dampaknya bisa mencapai 899,35 hektar dan 1.120 hektar. Kondisi ini menunjukkan bahwa pendataan di lapangan terus berubah seiring api masih belum teratasi.
Baca Juga: Liburan Panas di Eropa Jadi Tantangan Wisatawan
Penyebab pastinya masih terakumulasi, tetapi dugaan awal mengarah pada faktor manusia, yakni api dari perapian yang diduga ditinggalkan oleh pelintas di jalur tradisional atau “jalur tikus”. Lalu merambat karena kondisi kemarau yang sangat kering.
Kondisi ini diperparah oleh musim kemarau yang panjang, sehingga vegetasi kering sangat mudah terbakar dan api cepat menyebar ke area sabana serta lahan sekitar Bromo. Dampak utamanya bukan hanya kerusakan ekologi, tetapi juga gangguan terhadap aktivitas wisata dan pengelolaan kawasan konservasi.
Balai Besar TNBTS menutup sementara beberapa jalur masuk seperti Jemplang, Coban Trisula, dan Senduro, sementara akses dari Cemoro Lawang dan Wonokitri masih dibuka terbatas dengan aktivitas pergerakan wisatawan di wilayah yang dinilai aman. Di sisi lain, pemerintah daerah menetapkan status darurat darurat kekeringan serta kebakaran hutan dan lahan, menandakan bahwa ancaman ini dipandang serius dan memerlukan penanganan lintas instansi.
Karhutla menghilangkan habitat satwa kecil, serangga, burung, dan tumbuhan endemik atau tumbuhan yang membutuhkan waktu lama untuk pulih, sehingga rantai makanan dan keseimbangan ekosistem ikut terganggu.
Setelah vegetasi terbakar, tanah menjadi lebih terbuka, mudah tergerus angin dan hujan, lalu kemampuan kawasan menyerap udara menurun, yang pada akhirnya membuat pemulihan alam berjalan lambat. BB TNBTS sebelumnya menyebut pemulihan ekosistem pascakebakaran Bromo bisa memakan waktu tiga sampai lima tahun, terutama agar pepohonan dan vegetasi asli dapat tumbuh kembali secara optimal.
Kerusakan Bromo bukan hanya soal lahan yang hangus, tetapi juga hilangnya fungsi ekologis kawasan konservasi dalam jangka menengah hingga panjang.
