ASIAWORLDVIEW – Laporan Future Health Index 2026 menegaskan bahwa Indonesia berada di persimpangan penting dalam dunia teknologi kesehatan. Artificial Intelligence atau AI telah terbukti memberikan manfaat nyata, tetapi untuk menerjemahkan manfaat awal ini menjadi peningkatan layanan kesehatan yang berkelanjutan dan dalam skala yang lebih luas, diperlukan kolaborasi erat antara pemerintah, penyedia layanan kesehatan, tenaga klinis, akademisi, dan mitra teknolog
David Utama, Presiden Direktur Siloam International Hospitals, yang menyatakan bahwa “AI ini is not replacing. AI ini enhancing“.
AI adalah mitra yang mendukung pengambilan keputusan, sementara akuntabilitas tetap berada di tangan tenaga kesehatan. Selain itu, membantu tenaga kesehatan mengambil keputusan yang lebih cepat dan tepat, sekaligus menghadirkan lebih banyak waktu untuk interaksi yang bermakna dengan pasien.
Baca Juga: Laporan Terbaru: AI Tingkatkan Kapasitas Layanan Kesehatan Indonesia
“Teknologi berperan sebagai enabler yang memperkuat kapabilitas klinis, sementara dokter dan tenaga kesehatan tetap menjadi pusat pengambilan keputusan serta pemberian layanan bagi pasien. Untuk memperluas penerapan AI secara luas dan bertanggung jawab, dibutuhkan kepemimpinan klinis yang kuat, data yang tepercaya dan saling terhubung, tata kelola yang jelas, serta kolaborasi erat di seluruh ekosistem kesehatan,” ia menambahkan.
Temuan FHI 2026 Indonesia menunjukkan tingginya permintaan akan AI di kalangan tenaga kesehatan Indonesia. Hampir dua pertiga (63%) mengatakan penggunaan alat berbasis AI yang disediakan oleh institusi mereka telah meningkat dalam setahun terakhir. Lebih dari separuh (57%) menggunakan AI generatif untuk membahas ide-ide terkait pekerjaan.
Kepercayaan terhadap pimpinan juga relatif tinggi. Lebih dari tiga perempat tenaga kesehatan (77%) percaya bahwa pimpinan institusi mereka telah mengambil langkah yang tepat untuk menerapkan alat berbasis AI, jauh di atas rata-rata global sebesar 59%.
AI saat ini difungsikan sebagai alat bantu skrining dan untuk mempercepat proses pembacaan data penunjang, seperti dalam skrining tuberkulosis (TB) atau pembacaan hasil USG kehamilan.
Penerapan AI di Indonesia sudah mulai terlihat di berbagai lini. Salah satu yang paling revolusioner adalah di ruang Intensive Care Unit (ICU). Melalui kolaborasi strategis antara Siloam Hospitals dan Philips, teknologi Smart ICU memungkinkan berbagai perangkat medis saling terhubung dan datanya diolah secara otomatis menggunakan AI. Ini mengubah pendekatan penanganan pasien kritis dari pola reaktif menjadi prediktif.
“Dulu di ICU setelah pasiennya drop, baru kita bereaksi. Sekarang dengan AI karena semua alatnya itu terhubung, dan datanya itu diolah, 30 menit sebelum pasien itu drop, kita sudah bisa prediksi. Kemampuan prediksi dini ini menjadi faktor penting dalam mempercepat tindakan medis dan meningkatkan peluang keselamatan pasien,” jelasnya lagi.
Meskipun manfaatnya sudah mulai terasa, laporan ini juga mengungkap sebuah tantangan besar: laju adopsi AI di kalangan tenaga kesehatan berkembang lebih cepat dibandingkan dengan kesiapan pelatihan, integrasi sistem, pemantauan, dan tata kelola yang dibutuhkan untuk mendukung implementasi AI secara aman dan konsisten dalam skala yang lebih luas. Temuan ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga merupakan isu global.
Shez Partovi, Chief Innovation Officer Philips, menyatakan bahwa “ada keinginan yang sangat tinggi dari para klinisi untuk menggunakan alat-alat AI, sehingga mereka pun menggunakan alat pribadi mereka sendiri karena organisasi mereka tidak bergerak cukup cepat”.
Laporan tersebut menemukan bahwa hampir dua pertiga tenaga kesehatan menggunakan alat AI pribadi ketika pilihan di tempat kerja tidak memenuhi kebutuhan mereka, dan 7 dari 10 mengatakan bahwa pelatihan untuk alat yang didukung AI tidak tersedia, terbatas, atau tidak konsisten di organisasi mereka.
Tantangan lain muncul dari sisi pasien. Sebanyak 57% pasien di Indonesia menggunakan AI generatif untuk mencari informasi terkait kesehatan secara online. Meskipun ini dapat membantu pasien menjadi lebih terinformasi, hal ini juga dapat menimbulkan kebingungan. 80% tenaga kesehatan mengaku mereka pernah harus meluruskan misinformasi yang dihasilkan AI saat dibawa oleh pasien ke konsultasi. Karena itu, transparansi menjadi semakin penting. Sebanyak 9 dari 10 pasien Indonesia (91%) mengatakan bahwa mereka harus diberitahu ketika AI digunakan dalam perawatan mereka.
