Nilai Tukar Rp17.875 Per Dolar AS, Rupiah Melemah di Tengah Tekanan MSCI dan Utang Pemerintah

Teller menghitung dolar AS atau USD di tengah tumpukan Rupiah.(Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) atau USD hari ini, Kamis (13/8/2026), kembali menunjukkan pelemahan. Kondisi ini melanjutkan tren negatif yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir.

Rupiah bergerak dalam rentang yang sempit namun cenderung tertekan di atas level psikologis Rp17.875 per dolar AS. Mata uang Indonesia ini berhasil bertahan di bawah level Rp17.900, namun gagal menunjukkan penguatan yang berarti. Pelemahan yang terjadi terbilang tipis, berkisar antara 0,01% hingga 0,14%, tetapi cukup signifikan karena terjadi di saat mayoritas mata uang Asia lainnya justru bergerak stabil atau menguat.

Pelemahan rupiah pada hari ini didorong oleh kombinasi beberapa faktor yang menekan sentimen pasar, baik dari sisi eksternal maupun domestik. Hasil review indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International) yang diumumkan pada dini hari menjadi perhatian utama pelaku pasar. Keputusan MSCI yang mempertahankan kebijakan pembekuan indeks Indonesia memberikan kelegaan karena tidak ada penghapusan besar-besaran. Namun, pengumuman penghapusan saham GOTO dari indeks Indonesia karena masalah likuiditas dan prospek perubahan bobot saham Indonesia menciptakan ketidakpastian yang membebani rupiah.

Selain itu, ketidakpastian mengenai prospek perdamaian di Timur Tengah, khususnya terkait pembukaan kembali Selat Hormuz, masih menjadi faktor risiko utama. Gejolak geopolitik ini berpotensi meningkatkan kembali permintaan terhadap aset safe haven seperti dolar AS.

Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta

Data penjualan ritel Indonesia masih terkontraksi 3,0% secara tahunan pada Juni 2026. Meskipun membaik dibandingkan penurunan 3,9% pada Mei, angka ini menunjukkan melemahnya daya beli masyarakat, yang menjadi sentimen negatif bagi nilai tukar rupiah.

Pemerintah melaporkan total utang pemerintah pusat per semester I-2026 mencapai Rp10.293,69 triliun. Rasio utang terhadap PDB mencapai 41,26%. Angka ini meningkat dari posisi akhir Maret 2026 sebesar Rp9.920,42 triliun (40,75% terhadap PDB), yang turut menambah beban sentimen pasar.

Di tengah proses pergantian kepemimpinan BI, investor masih mencermati komposisi Dewan Gubernur secara lebih luas. Meskipun kepastian posisi Gubernur BI yang akan diisi oleh Destry Damayanti telah mengurangi ketidakpastian, fokus pasar kini beralih pada susunan jajaran pimpinan bank sentral lainnya.

Analis melihat adanya potensi penguatan terbatas ke depan. Analis Doo Financial Futures, Lukman Leong, memperkirakan rupiah berpeluang menguat menyusul data inflasi AS yang kembali termoderasi, dengan proyeksi pergerakan dalam rentang Rp17.800 hingga Rp17.900 per dolar AS.

Infografis Nilai Tukar Rupiah
Infografis Nilai Tukar Rupiah

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *