Kolaborasi Lintas Sektor: Kunci Kalbe Farma dalam Mengedukasi dan Mengatasi Diabetes di Indonesia

ASIAWORLDVIEW – Diabetes masih menjadi salah satu tantangan kesehatan terbesar di Indonesia. Di tengah upaya pengendalian penyakit ini, PT Kalbe Farma Tbk terus menunjukkan komitmennya tidak hanya sebagai perusahaan farmasi, tetapi juga sebagai mitra strategis dalam membangun ekosistem kesehatan yang lebih kuat.

dr. Selvinna, M. Biomed, Pharma Director PT Kalbe Farma Tbk, menjelaskan bahwa pendekatan perusahaan saat ini telah melampaui sekadar urusan produksi dan distribusi obat. Inovasi utama Kalbe terletak pada kemampuannya untuk menjalin ekosistem kolaboratif yang menghubungkan berbagai pemangku kepentingan.

“Saat ini bahwa kita bisa berkolaborasi bukan hanya saja urusan industri produksi dan obatnya, tetapi bisa menjalin ekosistem bahwa kita itu berhubungan dengan akademisi, dengan komunitas, dengan berbagai profesi, itu adalah termasuk dengan government juga,” jelasnya.

Kolaborasi lintas sektor ini menjadi fondasi bagi upaya edukasi dan penanganan diabetes yang lebih holistik. Pendekatan ini mencerminkan pergeseran paradigma yang lebih luas, inovasi tidak lagi hanya soal produk dan teknologi, tetapi bagaimana berbagai elemen tersebut “dijahit” menjadi satu kesatuan ekosistem yang efektif. Dengan menjalin kemitraan bersama berbagai pihak, Kalbe berupaya menciptakan solusi yang lebih komprehensif, mulai dari pencegahan, deteksi dini, hingga pengelolaan penyakit yang berkelanjutan.

Baca Juga: Pakar: Diabetes Bisa Dicegah Lewat Edukasi dan Konsistensi

Meskipun kolaborasi telah terjalin, dr. Selvinna mengakui bahwa masih terdapat sejumlah tantangan besar yang perlu diatasi. Salah satunya adalah rendahnya angka deteksi dini diabetes di masyarakat. Banyak kasus yang baru terdeteksi ketika komplikasi sudah terjadi, sehingga penanganan menjadi lebih sulit dan biaya perawatan semakin membengkak. Selain itu, faktor penolakan atau denial dari pasien sendiri masih menjadi hambatan yang signifikan.

“Kadang-kadang ada orang yang mau dibantu tapi dirinya sendiri masih reject atau denial,” ungkapnya. Sikap ini seringkali menghambat pasien untuk mencari pengobatan dan mengubah gaya hidup, yang merupakan komponen penting dalam pengelolaan diabetes.

Tantangan lainnya meliputi keterbatasan sistem pendukung (support system), masalah pembiayaan kesehatan, serta aspek regulasi yang juga mempengaruhi akses dan kualitas layanan kesehatan. Keterbukaan dan kesadaran dari pasien serta keluarga menjadi sangat krusial agar upaya edukasi dan pengobatan dapat berjalan efektif.

Melalui berbagai program edukasi, Kalbe berkomitmen untuk terus meningkatkan kesadaran masyarakat tentang pentingnya deteksi dini dan pengelolaan diabetes.

Salah satu program unggulan yang terus digalakkan adalah Diabatees, yang dirancang untuk memberikan edukasi kepada pasien dan keluarga tentang cara hidup sehat dan mengelola diabetes secara mandiri. Edukasi yang berkelanjutan ini sangat penting, mengingat diabetes adalah kondisi yang membutuhkan manajemen seumur hidup. Di sisi lain, Kalbe juga mengupayakan berbagai solusi untuk mengatasi hambatan akses dan pembiayaan, termasuk melalui kemitraan dengan pemerintah dan lembaga pembiayaan lainnya.

“Itu buat kami adalah salah satu inovasi dalam meningkatkan kehidupan di dunia untuk meningkatkan kualitas offline,” tegas dr. Selvinna.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *