ASIAWORLDVIEW – Diabetes masih menjadi salah satu beban kesehatan terbesar di Indonesia. Berdasarkan data terbaru, jumlah penderita diabetes di Tanah Air diperkirakan mencapai 22,4 juta orang. Sementara mereka yang berada dalam kondisi prediabetes, di mana kadar gula darah sudah melewati batas normal namun belum masuk kategori diabetes, mencapai angka yang lebih mencengangkan, yaitu 44,9 juta orang. Angka ini menjadi sinyal bahaya yang tidak bisa diabaikan.
Ketua Umum Perkumpulan Endokrinologi Indonesia (PEDI), dr. Ida Ayu Made Kshanti, Sp.PD.-KEMD, menegaskan, Selasa (4/8/2026). bahwa pencegahan diabetes harus menjadi prioritas utama melalui edukasi berkelanjutan kepada masyarakat. Menurutnya, konsistensi dalam menjalankan pola hidup sehat merupakan fondasi paling penting untuk menekan angka kasus diabetes di Indonesia.
“Upaya pencegahan tidak cukup hanya dilakukan sesekali, tetapi harus menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari,” sebutnya dalam acara Kalbe Dukung Penanganan Diabetes.
Ia menyoroti pentingnya penanganan diabetes yang terintegrasi. Menurutnya, pengelolaan diabetes tidak boleh hanya berfokus pada terapi medis semata, seperti pemberian obat-obatan atau insulin. Dukungan psikososial dan edukasi pasien juga memegang peranan yang sama pentingnya.
Baca Juga: Diagnostik Supercepat Penyakit Jantung, Hanya Lewat Retina Mata
Dr. Ida Ayu menekankan bahwa upaya pencegahan dan pengendalian diabetes tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Dibutuhkan kolaborasi erat antara tenaga kesehatan, komunitas edukator, dan masyarakat luas. Kolaborasi ini akan menjadi kunci dalam membangun kesadaran kolektif serta memperkuat upaya di tingkat nasional.
“Kami dari PEDI terus mendorong para dokter dan tenaga kesehatan untuk tidak hanya memberikan layanan kuratif, tetapi juga promotif dan preventif. Di sisi lain, peran komunitas edukator dan kader kesehatan di masyarakat sangat vital untuk menyampaikan pesan-pesan kesehatan dengan cara yang mudah dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat,” jelasnya.
Jangan lupakan pola makan seimbang, jelasnya. Ia menambahkan, mengatur asupan makanan dengan memperhatikan komposisi karbohidrat, protein, lemak sehat, serta serat dari sayur dan buah. Menghindari makanan tinggi gula dan karbohidrat olahan menjadi langkah krusial, mengingat pola makan modern yang cenderung tinggi kalori dan rendah serat menjadi salah satu pemicu utama resistensi insulin.
Aktivitas fisik yang teratur, minimal 150 menit per minggu atau sekitar 30 menit setiap hari, terbukti efektif membantu mengontrol kadar gula darah dan meningkatkan sensitivitas insulin. Olahraga tidak harus berat; aktivitas sederhana seperti berjalan kaki, bersepeda, atau senam aerobik sudah memberikan manfaat signifikan.
“Deteksi dini melalui cek gula darah rutin sangat penting, terutama bagi mereka yang memiliki faktor risiko seperti riwayat keluarga dengan diabetes, obesitas, atau gaya hidup sedentari. Semakin cepat kondisi terdeteksi, semakin besar peluang untuk mencegah perkembangan menjadi diabetes tipe 2.” ia menambahkan.
“Pasien diabetes tidak hanya membutuhkan obat, tetapi juga pemahaman yang cukup tentang kondisi mereka dan dukungan mental untuk menjalani perubahan gaya hidup jangka panjang,” ujarnya. Edukasi yang komprehensif akan memberdayakan pasien agar mampu mengelola kondisi mereka secara mandiri, mulai dari memantau gula darah sendiri, mengatur pola makan, hingga mengenali tanda-tanda komplikasi dini.
Dengan pendekatan yang holistik dan melibatkan seluruh elemen masyarakat, dr. Ida Ayu optimistis angka kasus diabetes di Indonesia dapat ditekan secara signifikan. Namun, ia mengingatkan bahwa semua ini membutuhkan komitmen jangka panjang dan kerja keras yang berkelanjutan. “Kita tidak bisa berhenti mengedukasi. Diabetes adalah perjalanan panjang, dan kita harus memastikan setiap orang memiliki bekal yang cukup untuk menjalaninya,” pungkasnya.
