Jakarta Berdiri Sejak Abad ke-16, Dari Pelabuhan Sunda Kelapa Jadi Kota Global

Kemeriahaan ultah Jakarta 22 Juni 2026.

ASIAWORLDVIEW – Jakarta, kota yang kita kenal hari ini sebagai pusat ekonomi, politik, dan budaya Asia Tenggara, sebenarnya adalah sebuah kanvas besar yang dilukis oleh sejarah selama lebih dari lima abad. Perjalanannya dimulai pada abad ke-16, ketika masih bernama Sunda Kelapa, sebuah pelabuhan kecil yang menjadi pintu gerbang perdagangan rempah Nusantara, di mana kapal-kapal dagang dari berbagai penjuru dunia berlabuh, membawa serta tidak hanya komoditas, tetapi juga budaya, bahasa, dan pengaruh yang kelak membentuk identitas kota ini.

Mengutip Jurnal Ilmiah Stpa Vol.6 No.2, Oktober 2024, dengan judul Pemaknaan Kmbali Memori Kolektif di Sunda Kelapa Melalui Objek Wisata dan Edukasi dengan Metode Kontras Harmonis, kawasan Sunda Kelapa merupakan cikal bakal penggerak perekonomian di Jakarta yang telah beroperasi sejak abad ke-5 Masehi dan telah melalui beberapa zaman. Lebih dari sekadar
sebagai pelabuhan tertua di Jakarta, kawasan Sunda Kelapa ditetapkan sebagai destinasi wisata sejarah untuk membuka pengetahuan generasi mendatang mengenai perjalanan bangsa.

Sunda Kelapa bertransformasi menjadi Batavia, sebuah pusat administrasi Hindia Belanda yang megah dengan kanal-kanal yang mengingatkan pada kota Amsterdam, benteng-benteng pertahanan yang kokoh, dan gedung-gedung pemerintahan bergaya Eropa yang masih bisa kita saksikan hingga kini di kawasan Kota Tua. Di sinilah fondasi modernitas mulai dibangun, meskipun di balik kemegahan arsitektur dan tata kota yang terencana, ada narasi perlawanan dan perjuangan yang tak terlihat. Setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, Batavia resmi berganti nama menjadi Jakarta, dan sejak saat itu, kota ini memikul beban dan tanggung jawab sebagai ibu kota negara yang baru lahir, sebuah simbol harapan bagi jutaan orang yang bermimpi untuk membangun masa depan yang lebih baik.

Dari sinilah, geliat modernisasi mulai terasa; gedung-gedung pencakar langit menjulang, pusat-pusat bisnis internasional bermunculan, dan jaringan transportasi mulai dibangun untuk menghubungkan setiap sudut kota yang terus meluas. Kini, Jakarta bukan lagi sekadar kota administratif; sebuah ekosistem yang hidup dan bernapas, tempat di mana budaya Nusantara bertemu dengan gaya hidup global, di mana seni dan kreativitas mengalir deras di galeri-galeri tersembunyi, dan di mana cita rasa kuliner dari Sabang sampai Merauke dapat Anda temukan hanya dalam satu malam di pusat kota.

Setiap sudut Jakarta menyimpan cerita, dan setiap cerita adalah bagian dari jiwa kota yang tak pernah tidur. Bukan hanya soal melihat gedung-gedung tinggi atau mencicipi kulinernya yang legendaris, tetapi juga merasakan denyut nadinya, memahami perjalanan panjangnya, dan mencintai kompleksitasnya. Karena pada akhirnya, Jakarta bukanlah sekadar tempat; ia adalah perjalanan. Dan perjalanan itu, masih terus berlanjut.

Ekonomi Inklusif di Momen HUT Jakarta

Ultah Jakarta
Warga berpakaian adat Betawi memeriahkan ultah Jakarta.(Antara)

HUT Jakarta bukanlah sekadar seremoni tahunan yang berlalu begitu saja. Agus Haryoto Widodo, Direktur Utama Bank Jakarta, momen ini adalah sebuah panggilan untuk refleksi mendalam sekaligus aksi nyata dalam memperkuat fondasi ekonomi daerah. Di tengah arus transformasi Jakarta menuju kota global, sektor keuangan memiliki peran yang jauh lebih besar dari sekadar fasilitator transaksi; ia adalah nadi yang menghidupkan ekosistem perkotaan.

“Pembangunan kota global tidak bisa hanya mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Diperlukan dukungan investasi yang kuat dan berkelanjutan dari berbagai pihak,” ia mengatakan.

Di sinilah Bank Jakarta memosisikan diri sebagai “Financial Operating System”—sebuah simpul yang menghubungkan warga, UMKM, pemerintah, dan investor dalam satu ekosistem kota yang utuh. Transformasi ini, menurut Agus, harus inklusif. Prinsip no one left behind menjadi fondasi utama, di mana kemajuan teknologi digital dan pembangunan kota harus mampu membuka kesempatan yang lebih luas bagi seluruh lapisan masyarakat, mulai dari pelaku UMKM, pedagang kaki lima, hingga keluarga muda yang berjuang memiliki rumah pertama.

“Ukuran keberhasilan Jakarta bukanlah dari seberapa tinggi gedung yang berdiri, melainkan dari seberapa banyak mimpi warga yang dapat diwujudkan,” ia menambahkan

Visi ini diwujudkan dalam langkah-langkah strategis yang terukur. Salah satunya adalah melalui penyelenggaraan Bank Jakarta XPORIA 2026, yang digelar sebagai bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-65 Bank Jakarta. Acara ini bukanlah pameran biasa, melainkan sebuah “ruang pengalaman” (experience space) yang mempertemukan merchant, nasabah, dan layanan perbankan dalam satu ekosistem kolaboratif. Ini adalah wujud nyata dari komitmen Bank Jakarta dalam membangun konektivitas ekonomi yang lebih efisien dan terintegrasi.

“Transformasi ini membawa misi jangka panjang yang lebih dalam. Rebranding Bank DKI menjadi Bank Jakarta bukan sekadar perubahan nama, melainkan reposisi menyeluruh untuk menjadi institusi keuangan yang tak hanya kuat secara finansial, tetapi juga relevan secara sosial,” pungkasnya.

Hal ini sejalan dengan arahan Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung, yang menilai bahwa nama “Bank Jakarta” adalah afirmasi bahwa Jakarta memiliki posisi dan aspirasi baru sebagai pusat keuangan yang sejajar dengan kota-kota besar dunia.

Melalui kolaborasi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, serta didukung oleh inovasi layanan perbankan digital, pembiayaan hijau, dan pemberdayaan UMKM, Agus optimis Jakarta tidak hanya akan menjadi pusat bisnis nasional, tetapi juga mampu bersaing sebagai kota global yang berdaya saing tinggi dan berkelanjutan. Karena pada akhirnya, seperti yang ia sampaikan, “Jika MRT menghubungkan 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *