Gaya hidup sehat kini telah menjadi bagian dari identitas masyarakat urban. Pandemi mempercepat kesadaran akan pentingnya menjaga tubuh tetap bugar yang mendorong perubahan pola konsumsi terhadap produk olahraga.
Salah satu brand lokal yang berhasil menjawab kebutuhan itu adalah HappyFit. Didirikan pada 2017 sebagai penjual peralatan olahraga rumahan kini HappyFit berkembang menjadi brand activewear perempuan yang memiliki visi besar untuk menjadi yang terdepan dalam dunia olahraga dan gaya hidup aktif.
Di balik strategi dan transformasi ini berdiri Petrisia Prawira selaku Managing Director HappyFit Indonesia yang membagikan kisah perjalanannya membangun brand ini sejak 2020.
Berawal dari tim kecil dan peran yang serba bisa

Sebelum menjadi seperti sekarang HappyFit dimulai dari sesuatu yang sederhana. Pada masa-masa awal Petrisia bergabung sebagai Head of Operation saat tim hanya terdiri dari tiga orang. Ia menangani berbagai hal dari HR logistik hingga warehouse seorang diri.
“Kita benar-benar kayak startup. Head of Operation ya kerjain semua,” ungkapnya. “Tapi dari situ aku justru belajar banyak karena semua yang dikerjain langsung dari tangan sendiri. Dari situ juga jadi tahu mana yang butuh dibangun dan dikembangkan.”
Momentum pertumbuhan besar datang di tahun 2020 ketika pandemi membuat permintaan alat olahraga rumah melonjak. Karena sejak awal hadir di kanal online Shopee HappyFit mendapat lonjakan penjualan tanpa perlu banyak promosi. Dari situ strategi mulai dikembangkan lebih serius mulai dari pembentukan tim hingga penajaman identitas brand.
Produk berkembang dari matras ke activewear perempuan
Tahun 2021 menjadi titik penting ketika HappyFit mulai masuk ke pasar activewear perempuan. Jika sebelumnya hanya fokus pada matras dumbbell dan resistance band kini HappyFit mulai menjual legging sport dan pakaian olahraga lainnya.
“Tadinya orang beli yoga mat cukup satu kali. Tapi baju? Lucu satu pengen dua. Dan perempuan itu nggak cukup satu legging aja,” ujar Petrisia.
HappyFit melakukan riset bahan dan fungsi agar produk tidak hanya modis tapi juga nyaman. Mereka menggunakan material seperti nylon dan lycra yang dilengkapi dengan fitur UV protection quick dry dan breathable.
“Kita sadar ternyata besar sekali untuk segmen activewear ini. Karena kalau matras orang cukup beli satu. Tapi kalau baju bisa jadi ekspresi diri dan bisa terus di-upgrade,” tambahnya.
Hingga kini SKU produk HappyFit mencapai sekitar 500 yang terdiri dari flare pants legging hingga pakaian santai harian. Bahkan beberapa produk seperti relax shirt habis terjual sebelum sempat dipromosikan secara resmi.
Membentuk karakter brand dan membangun kepercayaan pasar

Sebagai brand lokal HappyFit tidak ragu membidik target yang ambisius. Mereka ingin menjadi brand olahraga yang bisa dikenakan siapa saja tanpa kehilangan nilai kebanggaan.
“Kita ingin HappyFit itu kayak Uniqlo. Bisa diakses semua kalangan tapi tetap punya pride ketika memakainya,” kata Petrisia. Ia menyebut Lululemon sebagai salah satu benchmark tapi tetap ingin HappyFit punya pendekatan sendiri yang lebih dekat dengan pasar lokal.
Branding menjadi kunci dalam menghadapi tantangan pasar terutama saat produk impor murah makin membanjiri e-commerce, terlebih Shopee. Menurut Petrisia HappyFit tidak ingin bersaing hanya lewat harga tapi membangun nilai yang membuat pelanggan datang kembali.
“Ketika orang beli produk kami mereka beli kenyamanan mereka beli kepercayaan diri. Itu yang ingin kami komunikasikan bukan hanya dari sosial media tapi juga melalui komunitas pengguna kami,” jelasnya.
Komunitas sebagai kekuatan utama pertumbuhan
HappyFit menyadari bahwa kekuatan brand tidak bisa dibangun sendirian. Mereka aktif membentuk komunitas dan mendekatkan diri dengan pengguna nyata. Bukan hanya mengundang KOL tapi juga mengajak langsung pelanggan loyal untuk ikut dalam berbagai event dan aktivitas.
“Ternyata justru dari pengguna langsung kita dapat banyak insight. Mereka tahu apa yang perlu kami perbaiki. Mereka yang bantu kami berkembang,” ujar Petrisia.
Tak hanya melalui event komunitas, HappyFit turut dibantu oleh RM (Relationship Manager) dari Shopee yang getol mengajak HappyFit untuk mengikuti sejumlah campaign yang akan makin meningkatkan visibilitas brand.
Selain menghadirkan produk yang fungsional HappyFit juga mulai rutin terlibat dalam event olahraga dan bazar. Salah satu koleksi unggulan mereka adalah Court Club Collection yang terinspirasi dari tren olahraga tenis dan paddle. Koleksi ini tidak dibuat sebagai seasonal release melainkan lini permanen yang akan terus dikembangkan.
Perluasan pasar dan pembaruan citra brand
Sebagian besar pelanggan HappyFit saat ini masih berada di Jakarta Bandung dan Surabaya. Namun untuk menjangkau wilayah timur mereka telah membangun warehouse di Surabaya dan membuka sistem consignment di Makassar.
Menariknya HappyFit juga mulai mendapat permintaan dari Singapura dan Hong Kong yang menunjukkan potensi ekspansi internasional di masa depan.
Agar brand lebih universal HappyFit sedang dalam tahap rebranding supaya tampil tidak terlalu feminin. “Kita masih terlalu feminin. Jadi cowok-cowok kadang mikir ini kayaknya brand cewek banget ya. Padahal kita punya koleksi cowok juga,” jelas Petrisia.
Mereka juga menargetkan segmen anak-anak dan lansia sebagai bagian dari rencana jangka panjang menjadi one stop shopping untuk olahraga dan gaya hidup sehat.
Visi besar menjadi merek pilihan utama untuk olahraga
Misi utama HappyFit adalah menjadi top of mind saat orang memikirkan perlengkapan olahraga. “Kami ingin orang kalau mikir olahraga langsung inget HappyFit. Kami ingin jadi one stop shopping dari matras sampai baju untuk siapa pun yang ingin hidup sehat,” ucap Petrisia.
Dengan komitmen terhadap kualitas pendekatan berbasis komunitas serta pemahaman akan kebutuhan lokal HappyFit membuktikan bahwa brand lokal bisa hadir kuat di tengah dominasi brand internasional.
Perjalanan HappyFit menunjukkan bahwa membangun merek bukan hanya tentang menjual produk tapi menciptakan makna dan rasa percaya diri bagi setiap penggunanya.
