Rupiah Melemah ke Rp18.110, Tren Negatif Berlanjut Sejak Awal Tahun

Rupiah (Antara)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah kembali mengalami pelemahan terhadap dolar Amerika Serikat (AS), Rabu (29/7/2026), melanjutkan tren negatif yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir. Rupiah dibuka di kisaran Rp18.099 hingga Rp18.104 per dolar AS pada pagi hari, melemah hingga 21 poin atau 0,12% dari posisi penutupan sebelumnya.

Pelemahan ini terus berlanjut sepanjang sesi perdagangan pagi, dengan rupiah sempat menyentuh level Rp18.107 hingga Rp18.110 per dolar AS. Rupiah bergerak dalam rentang yang cukup lebar, dengan posisi terendah menyentuh Rp18.110 per dolar AS.

Secara keseluruhan, rupiah menunjukkan pelemahan yang cukup dalam, mendekati level psikologis Rp18.110 per dolar AS. Bahkan, sejak awal Januari 2026, rupiah telah mengalami pelemahan sekitar 8,5%, menjadikannya salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di kawasan Asia.

Eskalasi konflik antara Amerika Serikat dan Iran menjadi pemicu utama. Laporan mengenai serangan Iran terhadap pasukan AS di Timur Tengah memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Harga minyak Brent naik 3,2% menjadi USD86,80 per barel, yang memberikan tekanan ganda bagi Indonesia sebagai negara net importir minyak.

Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta

Pelaku pasar bersikap sangat hati-hati menjelang pengumuman hasil rapat Federal Open Market Committee (FOMC) The Fed yang akan menentukan arah suku bunga acuan AS. Meskipun diperkirakan The Fed akan mempertahankan suku bunga (probabilitas 62-70%), pasar mengantisipasi adanya nada hawkish (cenderung menaikkan suku bunga) dari pernyataan Ketua The Fed.

Secara domestik, ketidakpastian masih membayangi pasar setelah pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo. Pasar mengkhawatirkan independensi BI dan kesinambungan kebijakan moneter, meskipun penunjukan Destry Damayanti sebagai Pejabat Gubernur Sementara dinilai mampu memberikan sinyal positif.

Menghadapi tekanan yang terus berlanjut, Bank Indonesia (BI) bergerak cepat untuk menstabilkan nilai tukar rupiah. Direktur Eksekutif Senior BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan komitmen bank sentral untuk memperkuat stabilisasi nilai tukar di tengah ketidakpastian global yang tinggi.

BI tidak hanya mengandalkan suku bunga kebijakan, tetapi juga terus mempertajam penggunaan berbagai instrumen moneter lainnya. Upaya ini mencakup triple intervention di pasar valas (spot, NDF, dan DNDF) serta optimalisasi instrumen moneter seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) yang didukung fasilitas insentif swap dan DNDF hedging. Langkah-langkah ini diambil untuk menjaga stabilitas nilai tukar sekaligus mendukung masuknya aliran modal asing.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *