ASIAWORLDVIEW – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (29/7/2026), bergerak sangat fluktuatif. Indeks sempat menguat di awal sesi. Namun kemudian berbalik arah dan merosot tajam di tengah perdagangan, melanjutkan tren pelemahan yang telah berlangsung selama beberapa hari terakhir.
IHSG dibuka di zona hijau dengan menguat 10,57 poin (0,17%) ke level 6.141,16. Penguatan ini bahkan sempat membawa indeks ke level tertinggi hariannya di 6.174,41. Sementara itu, indeks LQ45 juga ikut menguat tipis 0,07% ke posisi 608,48. Namun, momentum penguatan tidak bertahan lama. Tekanan jual yang besar muncul setelah pembukaan, membuat IHSG berbalik arah dan jatuh bebas ke zona merah. Pada pukul 10.15 WIB, indeks tercatat turun 92,78 poin atau 1,51% ke level 6.037,81. Pelemahan ini bahkan sempat menyentuh level terendah harian di 6.029,32.
Secara keseluruhan, hingga pukul 10.10 WIB, nilai transaksi di seluruh pasar mencapai Rp13,71 triliun, dengan volume perdagangan yang besar dan didominasi oleh aksi jual. Sebanyak 543 saham tercatat melemah, sementara hanya 138 saham yang menguat.
Baca Juga: Potret Inklusi dan Fenomena Kesenjangan Akses Perbankan di Jantung Jakarta
Sentimen utama berasal dari sikap hati-hati investor global menjelang pengumuman hasil rapat Federal Reserve (The Fed) yang akan menentukan arah suku bunga acuan AS. Meski diperkirakan The Fed akan menahan suku bunga, pelaku pasar sangat menantikan pernyataan Ketua The Fed, Kevin Warsh, untuk petunjuk kebijakan ke depan, yang dapat memengaruhi arus modal global.
Secara domestik, ketidakpastian masih membayangi pasar setelah pengunduran diri Gubernur BI Perry Warjiyo. Investor masih bersikap wait and see menunggu penetapan gubernur definitif, karena hal ini dinilai dapat memengaruhi arah kebijakan moneter dan independensi bank sentral ke depan.
Tekanan pada nilai tukar rupiah yang terus berlanjut turut menjadi pemberat utama. Rupiah yang melemah mendekati level terendah sepanjang masa di Rp18.190 per dolar AS meningkatkan kekhawatiran akan stabilitas ekonomi dan menekan saham-saham yang memiliki eksposur impor tinggi.
Penurunan indeks juga didorong oleh koreksi pada saham-saham berkapitalisasi besar atau big cap. Saham-saham seperti Bank Mandiri (BMRI), Bank Rakyat Indonesia (BBRI), dan Barito Renewables (BREN) menjadi beberapa pemberat utama indeks. Aksi jual oleh investor asing ( net sell ) juga terus berlanjut, menambah tekanan pada pasar.
