ASIAWORLDVIEW – Ekonomi digital saat ini tengah mejadi bagian yang penting di tengah masyarakat modern. Maybank Indonesia memandang QRIS sebagai salah satu infrastruktur pembayaran nasional yang paling efektif dalam mempercepat transformasi digital di tanah air. Momentum ini terkonfirmasi dari data Bank Indonesia yang mencatat transaksi QRIS melonjak 100,12% secara tahunan pada triwulan II 2026, dengan jumlah pengguna yang telah mencapai 60,77 juta per Februari 2026. Bagi Maybank, QRIS bukan sekadar kanal pembayaran alternatif—melainkan “enabler” yang mendorong adopsi layanan digital, meningkatkan engagement nasabah, sekaligus mewujudkan visi Bank Indonesia untuk menciptakan ekosistem pembayaran yang inklusif, efisien, dan interoperabel.
“Integrasi QRIS ke dalam aplikasi M2U ID App menjadi bagian penting dari upaya Maybank menghadirkan pengalaman perbankan digital yang seamless dan customer centric. Melalui layanan Maybank QR Pay, nasabah dapat melakukan pembayaran QRIS menggunakan sumber dana dari tabungan maupun kartu kredit—sebuah fleksibilitas yang memberikan nilai tambah sekaligus memperkuat posisi Maybank dalam ekosistem pembayaran digital nasional,” sebut Bambang Irawan, Direktur IT Maybank Indonesia.
Komitmen Maybank terhadap pengembangan QRIS tidak berhenti pada ranah domestik. Pada akhir Juli 2026, Maybank Indonesia meluncurkan layanan QR Pay Cross Border Indonesia–Malaysia—sebuah inovasi yang memungkinkan nasabah melakukan pembayaran menggunakan QR di merchant yang berpartisipasi di Malaysia secara praktis. Langkah ini sejalan dengan penguatan konektivitas pembayaran lintas batas yang terus didorong Bank Indonesia, di mana kerja sama QRIS dengan Thailand sejak Agustus 2022 telah mencatat 1,64 juta transaksi dengan nilai Rp656,27 miliar.
Baca Juga: Riset: 1,5 Juta Warga Jakarta Tak Tersentuh Ekonomi Digital
“Layanan lintas negara ini tidak hanya memberikan kemudahan bagi nasabah yang bepergian atau melakukan transaksi antarnegara, tetapi juga memperluas daya saing UMKM Indonesia yang terintegrasi dengan ekosistem pembayaran digital regional. Maybank memandang bahwa pengembangan QRIS Cross Border merupakan bagian dari upaya membangun ekosistem pembayaran digital yang semakin terhubung, inklusif, dan efisien—sejalan dengan misi Bank Indonesia dalam memperluas akses keuangan masyarakat melalui penguatan QRIS, BI-FAST, dan konektivitas pembayaran lintas batas,” ia menambahkan.
Maybank Indonesia menyadari bahwa transformasi digital tidak akan berjalan optimal tanpa diimbangi dengan peningkatan literasi digital dan kepercayaan masyarakat. Meskipun penggunaan smartphone dan layanan digital terus meningkat, tingkat pemahaman masyarakat masih beragam. Maybank mengidentifikasi bahwa tantangan terbesar bukan hanya terkait kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga membangun kepercayaan terhadap keamanan layanan digital serta meningkatkan kesadaran mengenai praktik bertransaksi yang aman.
Data menunjukkan bahwa meskipun 83% masyarakat telah mengadopsi pembayaran digital, tingkat literasi keuangan baru mencapai 65,43%—sebuah kesenjangan yang berkontribusi pada lebih dari 10.000 insiden penipuan tahunan. Oleh karena itu, Maybank secara berkelanjutan melakukan edukasi kepada nasabah mengenai pentingnya menjaga kerahasiaan data pribadi dan kewaspadaan terhadap modus penipuan digital, sambil terus memperkuat sistem keamanan digital melalui berbagai lapisan pengamanan sesuai standar industri dan ketentuan regulator.
Maybank juga memandang bahwa kantor cabang dan layanan digital bukanlah dua hal yang saling menggantikan, melainkan saling melengkapi—digital banking memberikan kemudahan untuk transaksi sehari-hari, sementara kantor cabang tetap memiliki peran penting dalam memberikan konsultasi, layanan kompleks, dan pendampingan bagi nasabah yang membutuhkan interaksi langsung.
Maybank Indonesia berkomitmen untuk menghadirkan layanan keuangan yang mudah diakses, aman, dan relevan bagi seluruh segmen masyarakat—sejalan dengan misi Humanising Financial Services. Peningkatan literasi digital dipandang sebagai tanggung jawab bersama yang membutuhkan kolaborasi erat antara regulator, industri perbankan, pemerintah, institusi pendidikan, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya, agar edukasi kepada masyarakat dapat dilakukan secara lebih luas, konsisten, dan berkelanjutan.
“Dalam tiga hingga lima tahun mendatang, Maybank memproyeksikan layanan perbankan akan semakin terdigitalisasi dan terintegrasi dengan kebutuhan kehidupan sehari-hari nasabah. Pengembangan ekosistem pembayaran digital, pemanfaatan analitik data, personalisasi layanan, serta peningkatan keamanan siber akan menjadi beberapa faktor yang semakin menentukan daya saing industri perbankan. Pada saat yang sama, keberhasilan transformasi digital tidak hanya ditentukan oleh teknologi, tetapi juga oleh kemampuan industri menjaga kepercayaan nasabah melalui tata kelola yang baik, keamanan data, serta inovasi yang bertanggung jawab,” pungkasnya.

