IHSG Melemah Tipis, Sentimen Domestik Negatif

Memantau pergerakan saham.(Pexel)

ASIAWORLDVIEW Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka melemah hari ini, Kamis (9/7/2026), di level sekitar 5.865–5.863, turun tipis sekitar 0,13–0,17% dibandingkan penutupan sebelumnya. Pelemahan ini terjadi di tengah tekanan global akibat konflik geopolitik AS–Iran di Selat Hormuz yang memicu kekhawatiran pasar internasional.

Selain itu, sentimen domestik negatif dari kabar bahwa S&P Dow Jones mempertimbangkan menurunkan klasifikasi pasar ekuitas Indonesia dari Emerging Market menjadi Frontier Market.

Kondisi ini diperburuk oleh pelemahan rupiah yang menembus level psikologis Rp 18.000 per USD. Alhasil menambah kekhawatiran investor.

Dari sisi pergerakan saham, tercatat 253 saham melemah, 227 saham menguat, dan 198 stagnan, menunjukkan distribusi yang cukup seimbang meski tekanan lebih dominan.

Sektor yang paling tertekan antara lain IDX Health (-0,85%), IDX Infrastructure (-0,55%), dan IDX Cyclicals (-0,33%). Saham-saham unggulan LQ45 seperti Astra International (ASII) turun 2,66%, Telkom Indonesia (TLKM) melemah 2,39%, dan Surya Citra Media (SCMA) terkoreksi 1,90%. Sebaliknya, beberapa saham energi justru mencatat penguatan, seperti ESSA naik 4,63%, Alamtri Minerals (ADMR) naik 1,81%, dan Medco Energi (MEDC) naik 1,71%, didorong oleh kenaikan harga minyak dunia.

Baca Juga: IHSG Menguat, Kebijakan BI Jadi Penopang

Sepanjang sesi awal, IHSG bergerak fluktuatif di rentang 5.839–5.870, menandakan volatilitas tinggi. Investor asing masih mencatat net sell, menambah tekanan pada indeks. Secara teknikal, IHSG diperkirakan akan menguji level support di 5.750–5.850 dan resistance di 5.900–5.950.

Kondisi ini menunjukkan bahwa pasar saham Indonesia sedang berada dalam fase penuh ketidakpastian, di mana faktor eksternal dan domestik sama-sama memberikan tekanan.

Bagi investor, situasi ini menjadi pengingat penting untuk lebih selektif dalam memilih saham, terutama pada sektor energi yang berpotensi mendapat dukungan dari tren kenaikan harga minyak, sambil tetap memperhatikan risiko makroekonomi dan geopolitik.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *