Rupiah Kembali Tembus Rp 18.000, Melemah di Tengah Gejolak Pasar

Uang rupiah.(Ekon.go.id)

ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (USD) hari ini, Kamis (9/7/2026), kembali melemah tajam. Kini menembus level psikologis Rp 18.000 per USD.

Pada pembukaan perdagangan pagi, rupiah berada di kisaran Rp 18.066–18.073 per USD, turun sekitar 0,29–0,33% dibandingkan penutupan sebelumnya di Rp 18.014. Kurs Bank Indonesia (BI) menetapkan nilai tengah di Rp 18.005, dengan kurs jual Rp 18.095 dan kurs beli Rp 17.915.

Pelemahan ini mencerminkan tekanan eksternal maupun domestik yang semakin kuat. Dari sisi eksternal, ketegangan geopolitik di Timur Tengah akibat serangan militer AS terhadap Iran di Selat Hormuz memicu kekhawatiran atas pasokan minyak global.

Sementara harga minyak Brent yang sempat menembus USD 80 per barel menambah beban inflasi dunia. Selain itu, risalah rapat FOMC menunjukkan sikap hawkish sebagian pejabat The Fed, meningkatkan ekspektasi kenaikan suku bunga yang membuat investor global lebih memilih aset dolar.

Baca Juga: Rupiah Melemah Tipis, Cadangan Devisa Jadi Penopang

Di dalam negeri, sentimen negatif juga muncul dari penurunan Indeks Kepercayaan Konsumen (IKK) Indonesia serta kabar bahwa S&P Dow Jones mempertimbangkan menurunkan klasifikasi pasar ekuitas Indonesia dari Emerging Market ke Frontier Market, yang berpotensi menurunkan minat investor asing.

Kurs di bank-bank besar pun mencerminkan pelemahan ini: BCA menetapkan kurs beli Rp 18.062 dan kurs jual Rp 18.082, Mandiri Rp 18.040–18.070, BRI Rp 17.996–18.026, dan BNI Rp 18.050–18.090. Sepanjang perdagangan, rupiah bergerak fluktuatif di kisaran Rp 17.950–18.050, menandakan volatilitas tinggi. Investor asing terlihat lebih berhati-hati, sehingga arus modal keluar menambah tekanan terhadap rupiah.

Bank Indonesia kemungkinan akan melakukan intervensi di pasar valas untuk menjaga stabilitas, mengingat pelemahan rupiah sudah menembus level psikologis yang sensitif. Secara keseluruhan, pelemahan rupiah pada 9 Juli 2026 menjadi cerminan rapuhnya mata uang domestik terhadap guncangan global sekaligus tantangan bagi otoritas moneter untuk menjaga kepercayaan pasar.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *