ASIAWORLDVIEW – Nilai tukar rupiah hari ini, Kamis (2/7/2026), melemah di kisaran Rp17.977–Rp17.984 per USD. Angkanya mendekati level psikologis Rp18.000.
Pelemahan ini mencerminkan kombinasi tekanan eksternal dan domestik yang cukup kuat. Dari sisi global, penguatan dolar AS menjadi faktor utama setelah data ketenagakerjaan Amerika Serikat keluar lebih baik dari perkiraan, sehingga meningkatkan ekspektasi pasar terhadap sikap hawkish The Fed.
Kondisi tersebut mendorong investor beralih ke aset safe haven dan menekan mata uang emerging market, termasuk rupiah. Selain itu, ketidakpastian geopolitik terkait negosiasi perdamaian AS–Iran menambah premi risiko di pasar, memperburuk tekanan terhadap rupiah.
Dari sisi domestik, defisit neraca perdagangan Indonesia sebesar USD1,61 miliar pada Mei 2026, defisit pertama dalam enam tahun terakhir. Kondisi ini menjadi sentimen negatif yang menekan kepercayaan pasar.
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis, Dibuka di Rp 18.134 per Dolar AS
Inflasi tahunan Juni 2026 juga tercatat 3,34% (yoy), dengan makanan, transportasi, dan perawatan pribadi sebagai penyumbang utama, sehingga menambah beban terhadap daya beli masyarakat. Kondisi ini membuat rupiah semakin rentan terhadap gejolak eksternal.
Dalam jangka pendek, rupiah diperkirakan bergerak fluktuatif di rentang Rp17.950–Rp18.010 per USD. Level psikologis Rp18.000 menjadi titik kritis yang berpotensi ditembus jika tekanan global berlanjut.
Pemerintah dan Bank Indonesia diperkirakan akan melakukan intervensi di pasar valas serta menjaga kebijakan moneter untuk menahan pelemahan lebih lanjut. Namun, volatilitas tetap tinggi karena investor cenderung menunggu rilis data Nonfarm Payrolls (NFP) AS yang akan menjadi acuan arah kebijakan suku bunga The Fed.
Pelemahan rupiah menunjukkan betapa sensitifnya mata uang ini terhadap dinamika global dan domestik. Jika tekanan eksternal terus berlanjut dan defisit perdagangan tidak segera diatasi, rupiah berisiko menembus Rp18.000 per USD. Namun, dukungan kebijakan fiskal dan moneter diharapkan mampu menjaga stabilitas jangka menengah, sehingga rupiah tetap berada dalam jalur pengendalian meski menghadapi tantangan besar.
