ASIAWORLDVIEW – Rupiah dibuka melemah, Rabu (1/7/2026), di posisi Rp17.944 per Dolar Amerika Serikat atau USD, turun 37 poin dari penutupan sebelumnya di Rp17.907. Sepanjang perdagangan, mata uang ini diperkirakan bergerak dalam kisaran Rp17.900–Rp17.950.
Tekanan terhadap rupiah semakin terasa karena indeks dolar AS menguat tipis ke level 101,323. Alhasil memperkecil ruang penguatan rupiah.
Kurs di bank-bank besar Indonesia juga mencerminkan tren pelemahan: di BCA e-rate tercatat Rp17.970 untuk beli dan Rp17.990 untuk jual, sementara di Mandiri special rate berada di Rp17.855 untuk beli dan Rp17.885 untuk jual. BRI menetapkan kurs beli Rp17.838 dan jual Rp17.991, sedangkan BNI menawarkan kurs beli Rp17.830 dan jual Rp17.970.
Pelemahan ini dipicu oleh beberapa faktor eksternal, terutama ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve AS yang memperkuat dolar. Selain itu, rilis data tenaga kerja AS (Nonfarm Payrolls) yang ditunggu pasar menambah ketidakpastian.
Baca Juga: Rupiah Menguat Tipis, Dibuka di Rp 18.134 per Dolar AS
Sementara ketegangan geopolitik antara AS dan Iran di Doha serta konflik regional turut memengaruhi aliran modal global. Dari sisi domestik, surplus neraca perdagangan Indonesia yang menyusut meningkatkan risiko defisit transaksi berjalan.
Implikasinya bagi Indonesia cukup serius: rupiah semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per USD, yang bisa memicu kekhawatiran pasar. Inflasi domestik juga tertekan oleh kenaikan harga pangan, mendekati batas atas target Bank Indonesia.
Peran Bank Indonesia menjadi krusial untuk melakukan intervensi di pasar demi menjaga stabilitas nilai tukar. Secara keseluruhan, pelemahan rupiah pada 1 Juli 2026 mencerminkan kombinasi tekanan eksternal dan internal yang menuntut kewaspadaan tinggi dari pelaku pasar serta kebijakan aktif dari otoritas moneter.
